Buyback gabungan Big Tech turun ke US$4,4 miliar di Q3 2026, turun 90% dari puncaknya karena pergeseran anggaran belanja modal ke sektor AI.
Key Takeaways
- Total buyback gabungan Alphabet, Amazon, Microsoft, Meta, dan Oracle turun ke US$4,4 miliar pada Q3 2026, level terendah sejak Q3 2017.
- Aksi pembelian kembali saham ini turun 90% dari rekor tertinggi sekitar US$45,9 miliar pada Q4 2021.
- Tiga kuartal beruntun nilai buyback bertahan di bawah US$5,0 miliar, setelah sempat mencatat lebih dari US$33,0 miliar pada Q1 2026.
- Alphabet, Amazon, Meta, dan Oracle tercatat belum membeli kembali saham mereka sepanjang 2026 karena belanja modal dialihkan ke AI.
Era penopang harga saham lewat aksi beli kembali saham oleh raksasa teknologi resmi berubah arah. Pembelian kembali saham gabungan Alphabet, Amazon, Microsoft, Meta, dan Oracle hanya terkumpul sebesar US$4,4 miliar pada Q3 2026. Angka ini menandai kuartal ketiga berturut-turut total buyback berada di bawah level US$5,0 miliar, berbanding terbalik dengan awal tahun ketika realisasinya masih menembus US$33,0 miliar di Q1 2026.
Belanja AI Menggeser Alokasi Modal US$45 Miliar
Jika ditarik dari titik tertingginya pada Q4 2021 yang mencapai sekitar US$45,9 miliar, volume share repurchases Big Tech sudah terpangkas hingga 90%. Penurunan ke level US$4,4 miliar ini adalah titik terendah sejak Q3 2017. Pemicu utamanya bukan penyusutan kas, melainkan perubahan prioritas: belanja kecerdasan buatan (AI spending) menyerap likuiditas yang sebelumnya dipakai untuk menopang earnings per share (EPS) lewat pengurangan jumlah lembar saham beredar.
Empat dari lima emiten besar—Alphabet, Amazon, Meta, dan Oracle—tercatat sama sekali belum membeli kembali saham mereka sepanjang tahun 2026. Dari kelompok tersebut, praktis hanya Microsoft yang masih menyisakan aktivitas buyback di pasar saham.
Reaksi Harga Saham Saat Penopang EPS Menghilang
Ketiadaan penopang EPS ini langsung tecermin pada posisi harga saham masing-masing emiten. Tanpa bantalan buyback dari kas internal, pergerakan harga kini murni bertumpu pada pertumbuhan pendapatan nyata dan efisiensi belanja modal.
Alphabet (GOOGL) berada di posisi 288,93 USD per lembar, bergerak mendekati batas bawah rentang 52 minggunya di 270,7 - 408,61 USD. Valuasi GOOGL menghadapi penyesuaian karena pasar mulai menghitung kembali seberapa cepat investasi infrastruktur AI dapat menghasilkan arus kas pengganti. Kondisi berbeda terlihat pada Amazon (AMZN) yang diperdagangkan di 266,03 USD, masih bertahan relatif dekat dengan batas atas rentang 52 minggunya di 196,0 - 287,2 USD. Perbedaan posisi harga ini memperlihatkan pasar mulai memisahkan emiten yang mampu menjaga arus kas dari emiten yang marginnya tertekan oleh beban belanja modal.
Ujian Nyata Pada Imbal Hasil Belanja Modal
Jika belanja modal untuk infrastruktur AI mampu membuktikan monetisasi nyata dalam laporan keuangan kuartal-kuartal berikutnya, maka penghentian buyback ini akan dinilai sebagai langkah alokasi modal yang tepat dan pasar dapat menerima kelipatan valuasi yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika pertumbuhan pendapatan dari lini AI melambat sementara emiten tetap menahan pembelian kembali saham mereka, maka tekanan terhadap valuasi saham Big Tech akan berlanjut karena pasar kehilangan bantalan likuiditas yang selama bertahun-tahun menjaga harga saham.
Kini tolok ukur pergerakan saham teknologi tidak lagi bertumpu pada seberapa besar kas yang dikembalikan ke pemegang saham, melainkan seberapa cepat belanja AI menghasilkan pertumbuhan kas baru. Laporan keuangan kuartal penutup 2026 akan menjadi penentu apakah era minim buyback ini menjadi standar baru pengelolaan modal Big Tech.