LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

IHSG Turun 41%, Kenapa Asing Malah Borong TINS & PTBA?

Ancaman downgrade MSCI menekan IHSG 41,5% YTD dan memicu outflow Rp126,2 triliun. Simak kenapa saham komoditas seperti TINS, ADMR, dan TAPG justru diuntungkan.


Key Takeaways

  • Konsultasi MSCI terkait potensi penurunan status Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market memicu foreign net sell Rp126,2 triliun YTD dan menekan IHSG 41,52% YTD.
  • Nilai tukar rupiah melemah ke Rp18.132/US$ dan yield SBN 10 tahun menyentuh 7,605% akibat harga minyak Brent yang bertahan di atas US$110/barel.
  • Saat saham big caps seperti BBCA terkoreksi 18,02% MoM, dana asing justru masuk ke TINS (+93,11% YTD) dan PTBA (+29,01% YTD) berkat dukungan laba 9M26.

Keputusan MSCI membuka konsultasi untuk menurunkan kasta bursa Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 16 Oktober langsung mengubah peta likuiditas. IHSG turun 16,70% hanya dalam sebulan—memperdalam koreksi menjadi 41,52% YTD—sementara rupiah melemah ke Rp18.132/US$. Investor asing mencatatkan net sell Rp126,2 triliun di pasar reguler sepanjang tahun berjalan, menekan saham berkapitalisasi besar seperti BBCA yang turun 18,02% MoM ke Rp4.980 dan AMRT yang terkoreksi 30,68% MoM.

Asing Jual Big Caps, Tapi Akumulasi TINS dan Emiten Komoditas

Tekanan jual ini didorong oleh risiko keluarnya dana pasif global, bukan karena rusaknya fundamental seluruh emiten. Buktinya terlihat pada arah foreign flow yang sangat selektif. Saat indeks terkoreksi dalam, aliran dana asing di TINS justru naik 93,11% YTD, diikuti PTBA (+29,01% YTD) dan TAPG (+12,14% YTD). Pasar memisahkan emiten yang sensitif terhadap pelemahan rupiah dari emiten penghasil dolar yang punya pertumbuhan volume.

Laba bersih TINS pada 9M26 naik 584% YoY menjadi Rp4,12 triliun (fair value Rp5.150). Kenaikan ini berkualitas karena ditopang serentak oleh volume penjualan (+72% YoY) dan harga jual rata-rata atau ASP (+52% YoY) berkat permintaan infrastruktur AI, ditambah Perpres No. 79/2026 yang mengizinkan produksi di atas kuota RKAB selama setahun di Bangka Belitung. Di tambang tembaga dan emas, AMMN berbalik mencetak laba bersih US$880 juta pada 9M26 dari rugi US$175 juta setahun sebelumnya karena penjualan naik 494% YoY (fair value Rp7.225).

Di sektor batu bara, harga Newcastle yang naik 40% YTD ke US$150/ton membuat laba bersih PTBA pada 9M26 tumbuh 216,4% YoY ke Rp4,4 triliun berkat kenaikan ASP 18% YoY. Sementara itu, ADMR mencetak kenaikan laba bersih 55,5% YoY menjadi US$317,53 juta (fair value Rp2.310) dengan struktur pendapatan baru: 41,7% pendapatannya (US$522,41 juta) kini berasal dari penjualan perdana smelter aluminium, bukan lagi sekadar batu bara.

Minyak di Atas US$110 dan Batas Waktu MSCI Juni 2027

Konflik Laut Merah dan Timur Tengah yang menahan minyak Brent di atas US$110/barel membuat inflasi AS naik ke 3,7% YoY dan membuka peluang kenaikan bunga The Fed pada Desember, sehingga Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75%. Namun, harga energi tinggi ini menguntungkan tarif kapal tanker dan CPO. Laba bersih SOCI pada 9M26 naik 167% YoY berkat kontrak tarif kapal yang lebih tinggi (fair value Rp675). Di perkebunan, harga CPO yang naik 10,7% YTD ke RM4.424/MT serta tambahan permintaan 4,35 juta ton dari mandat B50 mendorong laba 9M26 TAPG (+31,1% YoY; fair value Rp2.000) dan STAA (+23,8% YoY; fair value Rp1.400).

Dengan keputusan final MSCI yang baru diumumkan 30 Juni 2027 setelah masa konsultasi berakhir 30 April 2027, pergerakan IHSG akan cenderung terbatas. Selama menunggu kepastian tersebut, menempatkan sebagian dana di SBN 10 tahun dengan yield 7,605% menjadi langkah rasional, sembari memantau risiko perubahan kuota RKAB, aturan ekspor batu bara via PT DSI pada 2027, serta potensi kenaikan BI Rate jika rupiah kembali melemah.