LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Midterm AS 2026: Mengapa Rupiah Tetap Tertekan?

Hasil pemilu paruh waktu AS 2026 tetap menahan yield US Treasury di level tinggi. Ini efeknya ke pergerakan rupiah, BI-Rate, dan pasar saham.


Key Takeaways

  • Yield US Treasury 10-year diproyeksikan bertahan tinggi di rentang 4,6%–4,9% baik di bawah kendali Partai Demokrat maupun Republik akibat defisit anggaran AS yang tetap melebar ke 6,2% dari PDB.
  • The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga Fed Funds Rate sebesar 50–75 bps hingga 2027 untuk merespons inflasi yang bertahan di atas target 2%.
  • Rupiah berisiko melemah menuju level rata-rata Rp17.600 per dolar AS pada 2026, membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk menaikkan BI-Rate ke 6,00%–6,25%.
  • Risiko arus modal keluar kian terbuka dengan adanya potensi penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI serta sorotan outlook negatif dari lembaga rating global.

Tingkat penerimaan publik terhadap Presiden Donald Trump berada di level 38,4% menjelang pemilu paruh waktu (midterm) November 2026. Angka di bawah 50% secara historis hampir selalu berujung pada hilangnya kendali kursi Kongres bagi partai petahana. Survei memperlihatkan Partai Demokrat berpeluang besar merebut mayoritas DPR AS dengan potensi perolehan 227 kursi dari batas 218 kursi.

Bagi pasar negara berkembang, pergeseran politik di Washington ini bukan jaminan pelonggaran likuiditas global.

Dua Skenario Kongres, Satu Hasil: Yield Tetap Bertahan Tinggi

Bila Partai Demokrat memenangkan DPR atau Senat, pemerintahan AS akan masuk fase kebuntuan kebijakan (gridlock). Risiko penghentian operasional pemerintah (government shutdown) kembali mengemuka seiring batas utang sebesar US$41,1 triliun yang diperkirakan tercapai pada paruh pertama 2027. Namun kompromi belanja publik, terutama anggaran kesehatan dan subsidi, justru memperlebar defisit fiskal AS ke kisaran US$2,0 triliun atau 6,2% dari PDB.

Skenario sebaliknya juga tidak membawa pelonggaran. Jika Partai Republik mempertahankan mayoritas di Kongres, perang dagang berlanjut melalui tambahan tarif impor 10%–12,5% pada puluhan negara mitra. Pada saat yang sama, konflik Timur Tengah berisiko menahan harga minyak mentah di kisaran US$100 per barel. Kedua hal ini memicu inflasi harga barang impor dan pangan.

Hasil akhirnya sama untuk pasar obligasi: pasokan surat utang AS bertambah besar saat The Fed masih menahan suku bunga acuan di level tinggi. Yield US Treasury 10-year, yang sempat menyentuh 5,30%, diperkirakan bertahan di kisaran 4,9% sepanjang 2026.

Tekanan ke Rupiah dan Ruang Kenaikan Suku Bunga Domestik

Tingginya yield obligasi AS menyedot arus dana global keluar dari pasar domestik. Posisi rupiah kian sensitif karena harus bersaing dengan kebutuhan penerbitan obligasi perusahaan teknologi global yang mendanai belanja modal kecerdasan buatan. Rata-rata nilai tukar diproyeksikan bergerak melemah ke Rp17.600 per dolar AS pada 2026, dibandingkan rata-rata Rp16.464 pada 2025.

Beban tambahan datang dari pasar modal domestik yang menghadapi risiko penurunan status indeks saham oleh MSCI ke kelompok standalone market, ditambah outlook negatif dari Fitch dan Moody's. Guna menahan pelemahan rupiah dan menjaga selisih imbal hasil aset domestik, Bank Indonesia diperkirakan perlu menaikkan suku bunga BI-Rate sebesar 25–50 bps menuju 6,00%–6,25% dalam enam bulan ke depan.

Peta Peluang di Pasar Saham

Arah kebijakan pemenang pemilu AS akan membagi sektor yang diuntungkan dan tertekan secara berbeda:

  • Skenario Kemenangan Demokrat: Penurunan tensi geopolitik berpotensi menurunkan harga minyak mentah. Setiap penurunan 10% harga minyak memperbaiki transaksi berjalan Indonesia sekitar 0,1% dari PDB sekaligus memangkas beban subsidi energi pemerintah. Emiten konsumer, transportasi, dan manufaktur berbiaya energi tinggi mendapat ruang pemulihan margin.
  • Skenario Kemenangan Republik: Tarif impor proteksionis AS akan menekan volume perdagangan dunia. Namun, Indonesia memiliki perjanjian perdagangan timbal balik yang memberikan fasilitas tarif nol persen untuk minyak kelapa sawit (CPO), kopi, dan kakao. Emiten perkebunan dengan pasar ekspor ke AS mendapatkan keunggulan komparatif dibanding kompetitor regional.

Fokus utama pasar modal saat ini berada pada kemampuan cadangan devisa dan bauran intervensi moneter dalam meredam pelemahan rupiah, sebelum tekanan bunga obligasi merambat ke biaya pinjaman korporasi di dalam negeri.