LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Target Utang AS US$800 Miliar Mengancam Likuiditas Pasar

Target pinjaman AS US$800 miliar dan kenaikan saldo TGA ke US$1 triliun berpotensi menguras likuiditas pasar di saat yield 2 tahun bertahan mendatar.


Key Takeaways

  • Departemen Keuangan AS memproyeksikan saldo Treasury General Account (TGA) naik dari US$850 miliar pada akhir tahun menjadi US$1 triliun pada akhir Maret.
  • Target penarikan utang kuartal pertama mencapai US$800 miliar, melonjak dari US$574 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
  • Penerbitan surat utang jangka pendek (T-bills) berpotensi membanjiri pasar jika ukuran lelang obligasi kupon tidak dinaikkan, sehingga memperketat likuiditas.
  • Yield Treasury 2 tahun bertahan mendatar dan membentuk pola bullish flag meski harga minyak mengalami penurunan tajam.

Departemen Keuangan AS memperkirakan saldo Treasury General Account (TGA) akan menutup tahun di level US$850 miliar sebelum naik ke angka US$1 triliun pada akhir Maret. Pada saat yang sama, rencana penarikan utang untuk kuartal Januari hingga Maret ditetapkan sebesar US$800 miliar. Angka penerbitan utang ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di level US$574 miliar. Lonjakan kebutuhan kas pemerintah ini menjadi hambatan nyata bagi ketersediaan likuiditas pasar.

Kas TGA Naik ke US$1 Triliun, Pasokan T-Bills Berpotensi Membanjiri Pasar

Penambahan saldo TGA hingga menyentuh US$1 triliun berarti penarikan uang tunai dalam jumlah besar dari sistem perbankan langsung ke rekening pemerintah di bank sentral. Pengisian kas ini bekerja layaknya pengetatan dana tambahan karena uang tunai ditarik keluar dari peredaran pasar uang.

Situasi ini makin menekan karena pemerintah harus membiayai target pinjaman US$800 miliar hanya dalam rentang tiga bulan. Jika ukuran lelang obligasi kupon (coupon auction sizes) tidak dinaikkan, pemerintah terpaksa menerbitkan surat utang jangka pendek (T-bills) dalam jumlah besar. Penyerapan dana pasar uang untuk menyerap tumpukan surat utang baru ini berisiko menyedot cadangan likuiditas yang selama ini menopang valuasi saham dan aset berisiko di bursa global.

Yield 2 Tahun Menolak Turun di Tengah Koreksi Tajam Minyak

Pasar obligasi memperlihatkan reaksi yang tidak biasa saat kabar penarikan utang ini keluar. Yield Treasury tenor 2 tahun ditutup relatif mendatar, padahal harga minyak mentah turun tajam pada hari yang sama. Biasanya, penurunan harga komoditas energi langsung meredakan ekspektasi inflasi dan mendorong yield tenor pendek untuk turun. Ketidakmampuan suku bunga acuan pasar ini untuk bergerak turun menandakan beban pasokan surat utang mulai diperhitungkan pembeli obligasi.

Dari struktur teknikal, grafik yield 2 tahun sedang membentuk pola konsolidasi bullish flag. Pola ini memberi sinyal potensi pergerakan yield ke level yang lebih tinggi, kendati saat ini posisinya masih tertahan dan belum berhasil mencatatkan breakout menembus batas atas.

Dua Arah yang Menentukan Ketahanan Likuiditas

Jika Departemen Keuangan membebankan sebagian besar kebutuhan utang US$800 miliar ke pasar T-bills sementara yield 2 tahun berhasil menembus resistensi pola benderanya, maka kontraksi likuiditas akan terasa cepat pada penurunan valuasi saham dan memicu keluarnya aliran modal dari bursa pasar berkembang. Sebaliknya, jika pemerintah AS mendistribusikan pinjaman secara merata melalui lelang kupon jangka panjang dan yield 2 tahun gagal menembus ke atas, maka likuiditas di pasar uang akan tetap terjaga sehingga pasar saham terhindar dari guncangan pengetatan dana.

Arah pasar dalam beberapa bulan ke depan sangat bergantung pada komposisi lelang utang yang diumumkan serta kemampuan yield 2 tahun mempertahankan batas resistensinya.