Harga konsumen AS naik 31,3% sejak April 2020 melampaui upah 25,9%. Inflasi kini bertahan di atas target 2% The Fed selama 67 bulan berturut-turut.
Key Takeaways
- Harga konsumen di Amerika Serikat naik 31,3% sejak April 2020 hingga mencetak rekor tertinggi baru pada September.
- Rata-rata upah per jam hanya bertambah 25,9% pada rentang waktu yang sama, membuat kenaikan gaji pekerja habis tergerus biaya hidup.
- Inflasi CPI bertahan di atas target 2% The Fed selama 67 bulan berturut-turut, menjadi periode terpanjang ketiga dalam 100 tahun terakhir setelah era 1986 (242 bulan) dan 1997 (128 bulan).
Sejak April 2020, harga barang dan jasa di Amerika Serikat naik 31,3% dan menyentuh rekor tertinggi baru pada September. Pada periode yang sama, rata-rata upah per jam pekerja hanya tumbuh 25,9%. Angka ini memperlihatkan kenyataan di lapangan: seluruh tambahan upah yang diterima pekerja selama periode pemulihan pascapandemi habis terhapus oleh kenaikan harga.
Rekor Terpanjang Ketiga dalam Satu Abad Terakhir
Inflasi CPI kini sudah berada di atas target 2% The Fed selama 67 bulan beruntun. Dalam satu abad ke belakang, hanya ada dua masa di mana inflasi bertahan di atas target lebih lama dari periode saat ini. Periode pertama berlangsung selama 242 bulan dan baru tuntas pada 1986, sedangkan periode kedua bertahan 128 bulan hingga berakhir pada 1997.
Panjangnya rentang 67 bulan ini menegaskan bahwa tekanan harga bukan persoalan sesaat. Inflasi yang bertahan di atas target selama lebih dari lima tahun mengubah cara konsumen mengatur pengeluaran. Daya beli riil yang terus tergerus memaksa rumah tangga menahan belanja nonpokok, sementara penyesuaian gaji selalu tertinggal di belakang laju inflasi.
Daya Beli Terkikis Menekan Margin Sektor Konsumsi
Ketika pertumbuhan biaya hidup melampaui kenaikan pendapatan rata-rata, volume penjualan barang sekunder menjadi pihak pertama yang terkena imbas. Konsumen mulai membatasi belanja diskresioner dan mengalihkan sisa anggaran untuk kebutuhan primer yang harganya terus naik. Emiten ritel dan barang konsumsi nonpokok berisiko menghadapi penyusutan margin laba karena ruang menaikkan harga jual kian terbatas.
Bagi The Fed, inflasi yang enggan turun ke batas 2% menutup pintu penurunan suku bunga acuan secara agresif. Suku bunga yang bertahan tinggi dalam jangka panjang menjaga beban pinjaman korporasi tetap mahal. Saham dengan valuasi mahal dan beban utang besar menjadi kelompok yang paling rentan, sementara perusahaan dengan arus kas operasional solid dan neraca bersih relatif lebih terlindungi.
Tekanan Tambahan untuk Pasar Negara Berkembang
Suku bunga acuan AS yang tertahan tinggi ikut memengaruhi bursa saham dan obligasi di negara berkembang. Penguatan dolar AS menyedot likuiditas global kembali ke pasar uang Amerika, sehingga arus dana asing ke bursa negara berkembang cenderung melemah. Mata uang negara berkembang ikut menghadapi tekanan pelemahan, yang pada gilirannya menaikkan biaya impor dan beban utang valuta asing korporasi domestik.
Jika data inflasi berikutnya menunjukkan pelemahan menuju target 2% dan laju upah mulai mengejar selisih biaya hidup, maka tekanan pada daya beli warga akan mereda sekaligus memberi ruang bagi The Fed untuk melonggarkan suku bunga. Sebaliknya, jika inflasi bulanan kembali naik dan memperpanjang rekor 67 bulan ini, maka suku bunga acuan akan dipatok tinggi lebih lama, menekan laba bersih emiten konsumsi serta menahan laju aliran dana asing masuk ke pasar saham berkembang.