LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Analisis UNTR: Core Earnings Stabil di Tengah Write-Off

Kinerja bottom-line PT United Tractors Tbk (UNTR) pada paruh pertama tahun 2026 (H126) tampak tertekan secara headline. Perseroan mencatatkan reported NPAT Q226 sebesar Rp314 miliar, anjlok 51% QoQ dan 94% YoY, yang membawa YTD NPAT turun 88% YoY menjadi Rp956 miliar. Namun, penurunan tajam ini mayoritas disebabkan oleh one-off expenses berupa impairment asset panas bumi (geothermal) sebesar Rp2,1 triliun pada Q226, menyusul write-off sebesar Rp1,2 triliun pada kuartal sebelumnya.

Jika mengesampingkan faktor non-operasional tersebut, core earnings UNTR sebenarnya menunjukkan pemulihan secara kuartalan. Core NPAT Q226 tumbuh secara sekuensial, membawa core NPAT H126 ke angka Rp4,3 triliun. Angka ini mencakup sekitar 44% dari estimasi setahun penuh, yang dinilai masih sejalan dengan proyeksi (in-line).

Penyebab utama dari lesunya kinerja YoY pada paruh pertama adalah absennya kontribusi dari tambang emas Martabe pada Q126 serta keterlambatan persetujuan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) batubara dan emas yang baru rampung pada April 2026. Hal ini menahan laju divisi distribusi alat berat Komatsu dan bisnis tambang batubara milik sendiri. Meski demikian, aktivitas operasional mulai menunjukkan sequential improvement pada Q226, didorong oleh segmen kontraktor penambangan (Pama) serta divisi emas dan nikel. Dengan berjalannya operasional pasca-persetujuan RKAB, H226 diproyeksikan menjadi katalis rebound operasional yang kuat.

Keputusan untuk melakukan full write-off pada bisnis geothermal memberikan dampak ganda. Di satu sisi, langkah ini menghilangkan overhang risiko impairment yang membayangi profitabilitas UNTR dalam beberapa kuartal terakhir. Ketiadaan aset geothermal juga mengindikasikan bahwa perseroan mungkin akan mengambil sikap lebih agresif dalam mengejar proyek dengan IRR (Internal Rate of Return) lebih tinggi, meskipun harus berkompromi pada profil ESG. Di sisi lain, kegagalan ini memicu keraguan pasar terhadap kapabilitas M&A perseroan pada segmen non-core lainnya yang saat ini masih mencatatkan margin tipis.

Secara keseluruhan, valuasi UNTR saat ini dinilai sangat undemanding. Pada harga Rp24.500, saham ini diperdagangkan dengan kelipatan yang menarik, terutama mengingat bisnis emasnya yang undervalued di tengah tren kenaikan harga komoditas emas global. Target harga (TP) dipatok pada Rp31.500 dengan rekomendasi Buy, didukung oleh prospek pemulihan operasional yang lebih solid pada paruh kedua tahun ini.