Riset saham Rikopedia mengenai valuasi Magnificent 7, prospek capex AI, serta analisa saham Sea Ltd dan Grab melalui instrumen SDR.
Pergeseran alokasi aset global terlihat jelas pada paruh pertama tahun ini. Ketika instrumen safe haven seperti emas mulai mengalami konsolidasi, pasar ekuitas—khususnya indeks NASDAQ—kembali menunjukkan outperformance. Investor tampaknya kian optimis bahwa ekonomi AS mampu mempertahankan ekspansi tanpa tergelincir ke jurang resesi. Dalam konteks portofolio global, rotasi ini membuka peluang baru untuk trading saham maupun investasi jangka panjang, terutama pada sektor teknologi yang ditopang oleh earnings momentum kecerdasan buatan (AI).
Meskipun konsentrasi pasar pada kelompok Magnificent 7 memicu kekhawatiran volatilitas, riset saham kami menunjukkan bahwa valuasi kelompok ini masih berada pada level atraktif. Saat ini, Magnificent 7 diperdagangkan pada rata-rata forward P/E sekitar 23 kali. Angka ini berada di bawah rata-rata historis jangka panjang yang mencapai 30 kali, bahkan di bawah deviasi standar minus satu (-1 SD). Penurunan valuasi pasca-koreksi pasar baru-baru ini memberikan titik masuk (entry point) yang menarik secara fundamental.
Fokus utama pelaku pasar modal kini tertuju pada efektivitas belanja modal (capital expenditure atau capex) para hyperscalers. Data menunjukkan akumulasi capex untuk infrastruktur AI diperkirakan menembus USD 437 miliar dalam 12-bulan ke depan. Secara agregat, para raksasa teknologi ini menginvestasikan kembali sekitar 71% dari operating cash flow mereka untuk membangun data center, GPU, dan jaringan transmisi data. Kendati pasar sempat skeptis terhadap monetisasi investasi masif ini, akselerasi pertumbuhan pendapatan segmen cloud yang kembali menyentuh level di atas 30% secara tahunan (year-on-year) menjadi bukti awal bahwa belanja teknologi ini mulai menghasilkan arus kas riil.
Dalam peta kompetisi cloud, kami melihat Amazon (AMZN) dan Alphabet (GOOGL) memiliki fleksibilitas strategis yang lebih unggul dibanding kompetitornya. Amazon menerapkan pendekatan model-agnostic yang memungkinkannya memonetisasi model AI mana pun yang nantinya mendominasi pasar. Di sisi lain, inisiatif pengembangan chip internal seperti Trainium dan Graviton milik Amazon, serta TPU milik Alphabet, berpotensi menekan biaya capex secara signifikan dalam jangka panjang.
Bagi investor regional yang ingin mendiversifikasi portofolio di luar IHSG, kehadiran produk Singapore Depository Receipts (SDR) untuk saham-saham AS di bursa SGX memberikan opsi likuiditas baru tanpa kendala konversi mata uang langsung. Beberapa emiten yang kini dapat diakses melalui SDR meliputi SpaceX, Sea Limited (SE), dan Grab (GRAB).
SpaceX menarik perhatian pasca-IPO masifnya, meskipun pergerakan harganya saat ini cenderung mendahului fundamental keuangan perusahaan yang masih mencatatkan rugi bersih sekitar USD 4,9 miliar pada FY25. Selain itu, potensi tekanan jual dari berakhirnya masa lock-up saham orang dalam (insider) pada bulan Agustus perlu diantisipasi. IPO SpaceX juga berisiko mendiversifikasi minat investor ritel yang selama ini memburu premium value Elon Musk pada saham Tesla.
Sementara itu, Sea Limited menunjukkan pemulihan operasional yang solid. Investasi agresif Shopee pada infrastruktur logistik berhasil mempercepat waktu pengiriman dan mempertahankan pertumbuhan GMV di kisaran 25%. Di sektor fintech, SeaMoney mencatatkan pertumbuhan penyaluran pinjaman sebesar 70% dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang sangat terjaga di level 1,1%, setara dengan kualitas aset perbankan tradisional berkat pemanfaatan data ekosistem e-commerce yang kaya. Kami mempertahankan rekomendasi beli untuk Sea Limited dengan target harga SDR setara USD 4,41. Grab juga menunjukkan kinerja top-line yang kuat dengan pertumbuhan pendapatan 24%, didukung oleh penetrasi Grab Unlimited yang menyumbang sepertiga dari total GMV pengiriman. Target harga SDR Grab kami proyeksikan pada level USD 4,52.
Instrumen SDR ini ditransaksikan dalam denominasi Dolar Singapura (SGD) dengan ukuran lot minimum 100 unit. Struktur ini menawarkan fleksibilitas modal bagi investor ritel yang aktif melakukan analisa saham global, meskipun eksposur terhadap risiko fluktuasi nilai tukar (FX risk) antara USD dan SGD tetap melekat pada nilai underlying asset saham tersebut.