Bank Syariah Indonesia (BRIS) mendapat rating Overweight dengan target price Juni 2027 sebesar Rp2.250. Dibandingkan harga Rp1.845, target tersebut menawarkan upside sekitar 22%. Valuasi saham berada di kisaran 10,3 kali FY2026 P/E dan 8,9 kali FY2027 P/E, sehingga tekanan terhadap margin dan earnings revision dinilai telah cukup banyak tercermin dalam harga.
Investment case BRIS bertumpu pada perubahan strategi dari bank berbasis kerangka Syariah menjadi penyedia layanan keuangan yang lebih luas tanpa meninggalkan prinsip Islam. Setelah merger tiga bank syariah milik negara pada 2021, BRIS membangun skala melalui pertumbuhan kredit dan profit sebelum pencadangan masing-masing sekitar 17% dan 10% CAGR.
Perubahan tersebut penting karena ekspansi tidak lagi hanya mengandalkan nasabah dengan preferensi kuat terhadap produk syariah. Fokus yang lebih besar pada kualitas layanan, variasi produk, dan kemudahan transaksi membuka akses ke segmen pasar yang lebih luas. Jika eksekusi berjalan konsisten, strategi ini berpotensi mempertahankan pertumbuhan kredit di kisaran low teens dalam beberapa tahun mendatang.
Gold banking menjadi mesin akuisisi nasabah berikutnya. Bisnis cicil emas dan penitipan emas telah meningkat sekitar sepuluh kali lipat menjadi Rp22 triliun, setara sekitar 8% dari total pembiayaan, seiring kenaikan harga emas hampir 20% hingga awal 2026. Produk tersebut telah mendatangkan sekitar 800 ribu nasabah baru pada 2023–2025, dengan peluang cross-selling yang masih besar. Pendapatan non-bunga diproyeksikan mencatat CAGR sekitar 18% dalam tiga tahun ke depan.
Risiko utama berada pada net interest margin. Loan-to-deposit ratio sistem masih tinggi, sekitar 94% dibandingkan 91% pada Januari 2026, sementara kenaikan yield obligasi pemerintah dan deposito bank BUMN memperketat kompetisi funding. NIM BRIS diperkirakan turun ke 5,62% pada FY2026 dan 5,74% pada FY2028. Estimasi EPS FY2026–FY2028 juga berada sekitar 3–6% di bawah konsensus Bloomberg.
Ekspansi jaringan retail, investasi teknologi, dan distribusi turut menaikkan cost intensity. Cost-to-income ratio diperkirakan bertahan di sekitar 55%. Namun, belanja tersebut dapat memperkuat customer experience dan memperbesar basis dana murah. Dengan liquidity buffer yang solid, pertumbuhan pembiayaan dua digit, serta monetisasi ekosistem emas, risk-reward BRIS tetap menarik pada valuasi saat ini.