Emas menunjukkan ketahanan luar biasa di paruh pertama tahun ini dengan total demand mencapai 2.522 ton (+2% y/y), mencetak rekor nilai transaksi sebesar US$380 miliar. Namun, di balik angka agregat yang stabil ini, terjadi pergeseran struktural yang kontras antara pasar Barat dan Timur, serta dinamika sektoral yang menarik untuk dicermati.
Di satu sisi, gold ETF flows di pasar Barat, khususnya Amerika Utara, mengalami tekanan jual yang cukup signifikan pada kuartal kedua dengan mencatatkan outflows sebesar 45 ton. Pemicu utamanya adalah meningkatnya opportunity cost memegang emas seiring naiknya ekspektasi inflasi, suku bunga, dan yield US 10-year TIPS yang mendekati level 2,5%. Penguatan dolar AS turut menekan minat investor institusional Barat terhadap aset non-yielding ini.
Kontradiksinya, pelemahan di instrumen kertas ini diimbangi oleh aksi borong fisik dari bank sentral dan investor ritel Asia. Pembelian bersih bank sentral melonjak menjadi 289 ton di Q2, dipimpin oleh Polandia (+51 ton) dan China (+33 ton) yang terus melakukan diversifikasi cadangan devisa guna memitigasi risiko geopolitik. Di Asia, permintaan bar and coin tetap solid karena melemahnya mata uang lokal dan terbatasnya alternatif investasi yang menarik di pasar domestik.
Dari sisi riil, harga emas yang tinggi menjadi downside risk utama bagi industri perhiasan (jewellery fabrication). Volume konsumsi perhiasan merosot 17% y/y ke level terendah sejak pandemi (278 ton). Sebaliknya, sektor teknologi justru mencatat pertumbuhan konsumsi emas sebesar 2% y/y menjadi 80 ton. Booming infrastruktur AI menjadi katalis utama, di mana kebutuhan akan semikonduktor premium dan komponen dengan reliabilitas tinggi menyerap pasokan emas secara signifikan, mengompensasi lesunya pasar consumer electronics konvensional.
Dari sisi pasokan, total suplai relatif flat. Meskipun mine production tumbuh tipis 2% y/y ke rekor tertinggi kuartalan sebesar 966 ton, pasokan dari recycling justru turun 6% y/y karena pelaku pasar cenderung menahan barang, mengantisipasi apresiasi harga lebih lanjut.
Ke depan, laju harga emas di paruh kedua akan sangat bergantung pada arah kebijakan moneter global dan keberlanjutan ekspansi investasi AI. Jika yield obligasi AS tetap di level tinggi, opportunity cost emas akan terus menekan ETF Barat, memaksa pasar bergantung pada daya beli fisik Asia dan konsistensi akumulasi bank sentral untuk menjaga momentum kenaikan harga.