Kinerja Elnusa (ELSA) pada semester pertama 2026 terlihat lebih kuat daripada pertumbuhan revenue-nya. Net profit mencapai Rp435 miliar, naik 28,8% yoy, sementara revenue tumbuh 8,9% menjadi Rp7,59 triliun. Angka laba tersebut setara 45,7% dari proyeksi setahun penuh Rp951 miliar, sehingga target FY26 masih cukup realistis.
Namun, kualitas pertumbuhannya perlu dibedah. Pada 2Q26, net profit melonjak 62% yoy menjadi Rp245 miliar, terbantu forex gain dan penurunan finance cost setelah pelunasan sukuk. Setelah faktor non-operasional dikeluarkan, core profit tetap tumbuh 25% yoy menjadi Rp190 miliar. Artinya, earnings momentum memang membaik, meski tidak seluruh lonjakan laba berasal dari operasi inti.
Energy Distribution & Logistics menjadi mesin utama. Revenue segmen ini naik 26,6% yoy menjadi Rp4,92 triliun dan menghasilkan laba Rp293 miliar, tumbuh 25,5%. Sebaliknya, integrated upstream dan oil & gas support masih tertahan, dengan revenue masing-masing turun 10,7% dan 21,6%. Komposisi tersebut menjelaskan mengapa gross margin 1H26 turun dari 10,4% menjadi 9,5%: pertumbuhan datang dari bisnis distribusi yang menghadapi fuel cost dan trading mix kurang menguntungkan.
Kelemahan upstream sejauh ini lebih mencerminkan revenue recognition timing daripada perlambatan pekerjaan. Biaya proyek seperti Seismic Tedong, TBBM Palaran, dan TLPG Kolaka telah dicatat, sedangkan revenue baru diakui setiap progres mencapai kelipatan 10%. Pada akhir Juni, progres Palaran baru 3% dan Kolaka 15%. Unbilled receivables kepada pihak berelasi pun meningkat 25,4% menjadi Rp3,09 triliun, atau 27% dari total aset.
Implikasinya, 2H26 berpotensi lebih kuat ketika milestone proyek tercapai. Contract book Rp18,8 triliun memberikan revenue visibility yang baik, ditambah seismic backlog lebih dari Rp1 triliun hingga 2027. Meski begitu, kenaikan unbilled receivables juga berarti working capital dan cash conversion perlu diawasi; backlog besar belum otomatis menjadi kas.
Untuk FY26, revenue diproyeksikan Rp16,13 triliun, EBITDA Rp1,53 triliun, dan net profit Rp951 miliar. Pertumbuhannya masing-masing 11,3%, 24,7%, dan 32,4%. Balance sheet tetap defensif dengan posisi net cash, sedangkan operating cash flow diperkirakan pulih ke Rp1,21 triliun setelah negatif pada 2025.
Pada harga Rp690, ELSA diperdagangkan sekitar 5,3 kali FY26F P/E dan 1,8 kali EV/EBITDA, diskon lebar terhadap rerata P/E peers sekitar 14,2 kali. Fair value Rp1.110 menyiratkan upside sekitar 61%, tetapi rerating membutuhkan bukti conversion backlog. Katalis tambahan berasal dari ekspansi pengelolaan lapangan KSO/LCO untuk mendukung target lifting nasional 1 juta BOPD. Risiko utamanya tetap project delay, tender yang semakin kompetitif, margin pressure, dan revenue phasing yang bergeser ke periode berikutnya.