Ketegangan geopolitik di Timur Tengah baru-baru ini, yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, telah memicu guncangan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Hilangnya hampir seperlima pasokan minyak dunia—sekitar 20 juta barel per hari—membuat volatilitas harga energi meningkat tajam dan memicu pelepasan cadangan minyak strategis secara masif.
Banyak pelaku pasar mencoba membandingkan situasi ini dengan guncangan tarif dagang AS pada tahun 2025. Saat itu, kepanikan awal mereda dengan cepat karena gelombang inovasi sektor teknologi mampu menopang risk appetite. Di akhir tahun 2025, pasar saham global bahkan melonjak hingga 20% dan ekonomi AS tetap melaju kencang. Namun, berasumsi bahwa skenario serupa akan terulang di tahun 2026 adalah kesalahan fatal.
Perbedaan mendasar terletak pada inflasi dan arah kebijakan moneter. Pada tahun 2025, tekanan inflasi mereda sehingga bank sentral memiliki ruang untuk melakukan monetary easing guna meredam dampak tarif terhadap permintaan global. Kali ini, lonjakan harga energi menutup opsi tersebut. Ekspektasi pasar kini bergeser ke arah kenaikan suku bunga di Zona Euro dan Inggris, sementara ruang penurunan suku bunga di AS tertutup rapat.
Akibatnya, yield curve obligasi global bergeser naik secara menyeluruh, didorong oleh kekhawatiran inflasi jangka panjang serta tekanan fiskal dari kenaikan anggaran pertahanan. Kondisi likuiditas yang mengetat ini mulai memicu aksi risk-off yang masif di berbagai kelas aset.
Sektor-sektor yang sebelumnya sangat frothy—seperti saham AI, kripto, private credit, dan leveraged loans—kini menghadapi tekanan jual yang signifikan. Koreksi ini mulai mengekspos celah pada standar kredit (underwriting standards) serta valuation yang sudah terlampau mahal. Bagi para investor, era likuiditas murah dan optimisme buta di pasar modal tampaknya telah berakhir.
Dalam kondisi di mana cost of capital tetap tinggi, emiten dengan balance sheet yang kuat dan cash flow yang stabil akan jauh lebih unggul dibandingkan saham-saham pertumbuhan yang valuasinya hanya ditopang oleh narasi masa depan. Sektor energi dan komoditas kemungkinan akan terus menjadi alat hedging yang efektif, sementara sektor teknologi yang sangat bergantung pada pendanaan eksternal harus bersiap menghadapi downside risk yang lebih besar.