IHSG diperkirakan bergerak dalam weaker tone, sejalan dengan tekanan yang melanda bursa regional. Area 6.097 menjadi level teknikal penting karena bertepatan dengan 50-day moving average atau 50DMA. Pengujian level tersebut akan menentukan apakah indeks mampu membentuk technical rebound atau justru melanjutkan koreksi ke support berikutnya.
Sentimen makro masih cenderung menahan risk appetite. Harga minyak Brent memang mulai turun ke sekitar US$88 per barel, sementara lalu lintas kapal tanker melalui Selat Bab el-Mandeb meningkat tipis. Perkembangan ini mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan biaya logistik. Namun, dampak positifnya terhadap aset domestik belum terlihat kuat karena rupiah masih berada di sekitar Rp17.955 per dolar AS.
Performa rupiah juga tertinggal dibandingkan sejumlah mata uang regional yang telah menguat terhadap dolar AS. Kondisi tersebut dapat mempertahankan foreign exchange risk, khususnya bagi emiten dengan utang dolar atau kebutuhan bahan baku impor yang tinggi. Pada level indeks, tekanan rupiah berpotensi membatasi ruang rebound dan membuat investor asing lebih selektif menempatkan dana.
Di tengah kondisi itu, emas menjadi bright spot setelah rebound ke kisaran US$4.100 per troy ounce. Pergerakannya mulai memperlihatkan sinyal bottoming yang lebih meyakinkan sejak mencapai puncak pada Januari. Jika momentum berlanjut, saham produsen dan perusahaan dengan eksposur emas seperti ARCI, MDKA, BRMS, dan ANTM berpeluang mencatat relative outperformance terhadap IHSG.
ANTM menawarkan kombinasi katalis yang lebih lengkap dibandingkan peers. Saham ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 6,8 kali proyeksi price-to-earnings 2026, level yang relatif menarik untuk emiten dengan eksposur terhadap dua komoditas sekaligus. Harga emas yang tinggi mendukung prospek segmen logam mulia, sedangkan penguatan harga nikel dapat memperbaiki outlook bisnis hulunya.
Foreign flow turut memperkuat setup ANTM. Hingga Jumat terakhir, saham tersebut membukukan foreign inflow sekitar Rp396 miliar secara month-to-date. Arus dana ini menunjukkan adanya akumulasi ketika valuasi masih rendah dan commodity tailwinds membaik. Meski demikian, keberlanjutan rally tetap membutuhkan konfirmasi volume dan stabilisasi rupiah.
Strategi jangka pendek dapat difokuskan pada saham emas yang mempertahankan momentum dan likuiditas, sementara posisi pada saham sensitif terhadap dolar sebaiknya lebih terukur. Untuk IHSG, kemampuan bertahan di sekitar 6.097 menjadi penentu utama arah berikutnya. Breakdown dari 50DMA akan memperpanjang fase defensif, sedangkan rebound dengan volume kuat dapat membuka ruang pemulihan teknikal.