Kinerja terbaru Vale Indonesia (INCO) menunjukkan pergeseran struktural yang menarik. Saham ini tidak lagi hanya bergantung pada produksi nikel matte. Penjualan bijih nikel (nickel ore) kini resmi menjadi mesin pertumbuhan kedua yang menopang profitabilitas perusahaan di tengah volatilitas harga komoditas global.
Pada kuartal kedua, INCO membukukan net profit sebesar USD 61 juta, tumbuh 39% secara QoQ atau melonjak signifikan secara YoY. Hasil ini membawa laba bersih kumulatif paruh pertama tahun ini ke angka USD 104 juta. Meskipun top-line sedikit di bawah ekspektasi pasar akibat lag pada volume pengiriman matte, profitabilitas di level operasional justru melampaui perkiraan. EBITDA margin tercatat mencapai 42,6% pada kuartal kedua, level tertinggi dalam beberapa kuartal terakhir, berkat kontribusi nickel ore yang memiliki margin lebih tebal.
Diversifikasi portofolio ini terbukti krusial. Penjualan bijih nikel menyumbang USD 85 juta atau sekitar 29% dari total pendapatan kuartalan, naik drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya berkontribusi 1%. Keunggulan utama dari segmen ore ini adalah struktur biaya yang sangat rendah. Blok Bahodopi mencatatkan unit cash cost sebesar USD 21/ton, sementara blok Pomalaa bahkan lebih efisien di angka USD 7/ton. Dengan rata-rata ASP bijih nikel di kisaran USD 63/wmt, segmen ini memberikan margin penyangga yang sangat tebal bagi bottom-line perusahaan.
Memasuki paruh kedua, katalis pertumbuhan INCO akan ditopang oleh tiga faktor utama:
- Optimalisasi Kuota RKAB: Sementara kuota Bahodopi sudah terpakai sekitar 85%, blok Pomalaa masih menyisakan ruang yang sangat besar dengan utilisasi di bawah 25% dari alokasi 5,8 juta wmt. Ini memberikan headroom yang solid untuk memanfaatkan momentum pengetatan pasar domestik.
- Pemulihan Volume Matte: Setelah selesainya pembangunan kembali Electric Furnace 3 pada Juni lalu, produksi nikel matte siap dipacu secara penuh selama enam bulan ke depan untuk mengejar target tahunan.
- Proyek HPAL Pomalaa: Proyek Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) ditargetkan mencapai mechanical completion pada kuartal ketiga, menandai langkah awal ekspansi INCO ke rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Dari sisi valuasi, INCO saat ini diperdagangkan pada kelipatan EV/EBITDA sekitar 6x, terdiskon dibanding rata-rata kompetitor sejenis yang berada di level 8x. Target harga wajar berada di IDR 7.400 per saham. Kendati demikian, investor perlu mencermati beberapa downside risk, termasuk posisi kas yang menyusut menjadi USD 111 juta akibat belanja modal yang agresif, serta tren koreksi harga nikel LME di tengah tingginya inventori global.