LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Mengukur Prospek DEWA: Lompatan Volume dan Margin Baru

DEWA sedang memasuki fase transisi operasional yang krusial. Kinerja operasional terbaru mulai menunjukkan dampak positif dari strategi fleet internalization. Total overburden (OB) removal tumbuh solid, didorong oleh porsi armada internal (in-house mix) yang meningkat ke level 77% dibandingkan 62% pada tahun sebelumnya. Hasilnya, terjadi ekspansi EBITDA margin yang signifikan menjadi 28.5%.

Katalis pertumbuhan berikutnya berasal dari pengambilalihan sisa kapasitas subkontraktor di proyek tambang Bengalon sebesar 26 juta bcm. Dampak efisiensi biaya dari langkah ini diproyeksikan mulai terlihat pada paruh kedua tahun ini dan akan terefleksi penuh pada FY27F, yang berpotensi mendorong EBITDA margin ke level 30.4%. Di samping Bengalon, proyek Sebuku akan menjadi motor pertumbuhan volume baru dengan estimasi kontribusi awal sebesar 8 juta bcm sebelum meningkat menjadi 27 juta bcm di FY27F. Proyek Sebuku ini menawarkan starting rate yang lebih tinggi, sekitar US$2.8/bcm, berkat dukungan infrastruktur jalan hauling dan pelabuhan yang sudah tersedia.

Jika proyek baru lainnya berjalan sesuai rencana, total volume OB removal berpotensi melonjak hingga 232 juta bcm pada FY27F. Lompatan volume ini diperkirakan mampu melipatgandakan net profit menjadi Rp1,52 triliun di FY27F (+104% y-o-y) dari estimasi Rp748 miliar di FY26F. Meskipun belanja modal (capex) diproyeksikan naik menjadi Rp3,26 triliun di FY27F untuk mendukung ekspansi armada, risiko balance sheet diperkirakan tetap aman dengan rasio net debt to EBITDA yang terjaga di kisaran 0.9x hingga 1.5x.

Dari sisi penilaian investasi, valuasi dengan metode Sum-of-the-Parts (SOTP) menghasilkan target harga wajar sebesar Rp550 per saham. Valuasi ini mengombinasikan nilai DCF dari bisnis kontraktor tambang utama dan kepemilikan aset eksplorasi Gayo Mineral Resources (GMR) yang dihargai sesuai nilai buku sebesar Rp7,0 triliun. Saat ini saham ditransaksikan pada forward P/E 17.8x. Premium valuasi ini ditopang oleh stabilitas volume dari KPC dan Arutmin serta potensi value-unlock jangka panjang dari proyek GMR. Namun, investor tetap perlu mengantisipasi beberapa downside risk seperti keterlambatan persetujuan RKAB, kenaikan biaya bahan bakar, serta risiko penundaan pengiriman armada baru.