Dua hal besar terjadi hampir bersamaan di Bank Indonesia: Perry Warjiyo mundur setelah memimpin sejak 2018, dan BI menahan BI Rate di 5,75% setelah sebelumnya menaikkan 100 bps kumulatif di Mei–Juni. Destry Damayanti mengambil alih sebagai Acting Governor sampai pengganti permanen ditunjuk. Timing-nya menarik — transisi kepemimpinan berbarengan dengan momen yang secara teknis menandai puncak siklus pengetatan.
Kalau membaca sinyalnya, policy rate kemungkinan besar sudah mentok di level ini. BI tidak lagi bersandar pada kenaikan bunga, tapi bergeser ke toolkit yang lebih luas: insentif FX swap yang lebih tinggi, insentif baru untuk transaksi DNDF dan local currency settlement, biaya hedging yang ditekan, plus pembatasan progresif untuk transaksi valas tanpa underlying. Semua diarahkan untuk memperkuat demand terhadap aset rupiah tanpa harus mengetatkan kondisi domestik lebih jauh.
Yang sering luput: BI justru memperlonggar likuiditas di saat yang sama. Plafon Macroprudential Liquidity Incentive dinaikkan dari 5,5% ke 6,0% DPK, dan ada insentif Money Market Deepening baru sampai 2,0% DPK. Logikanya jelas — jangan sampai kondisi moneter yang ketat justru mencekik kredit. Repo tenor panjang dibuka lagi, collateral eligibility diperlebar. Ini kombinasi yang cukup cerdas: sisi stabilitas dijaga lewat rate dan intervensi, sisi pertumbuhan dijaga lewat likuiditas.
Masalahnya, peak rate saja tidak pernah cukup untuk memicu reli rupiah yang berkelanjutan. Sejarah cukup konsisten soal ini. Setelah siklus pengetatan 2018, rupiah nyaris flat di minggu pertama, baru menguat 2,6% setelah sebulan, dan sekitar 2,0% setelah tiga bulan. Pola serupa muncul pasca 2022–2023: sempat melemah 0,9% dulu, lalu recover sekitar 3,0% dalam dua-tiga bulan seiring membaiknya sentimen global. Bahkan episode 2024 yang cuma one-off precautionary hike pun berakhir sekitar 1,9% lebih kuat setelah tiga bulan. Intinya: penguatan datang belakangan, dan sangat bergantung pada kondisi eksternal.
Dan di sinilah headwind-nya. Fed makin hawkish — beberapa pejabat, mulai dari Dallas sampai Cleveland, secara terbuka membuka kemungkinan rate hike tambahan. Yield UST 10Y sempat menyentuh 4,70%, tertinggi sejak Januari 2025. Yang perlu dicermati, kenaikan itu lebih banyak didorong real yield (TIPS) ketimbang inflation compensation, tapi term premia mulai naik juga — refleksi dari tensi geopolitik (Timur Tengah, gangguan Houthi di Laut Merah) dan risiko tarif Trump. Kombinasi UST tinggi dan DXY yang menguat sudah lebih dulu mengetatkan kondisi finansial global, dan itu langsung menekan rupiah serta yield SBN.
Flow asing di bursa juga masih terbelah. Sepanjang bulan ini big banks seperti BBCA masih net inflow, begitu juga nama basic material — BRPT, ANTM, TINS. Tapi tekanan jual terlihat jelas di BMRI, ASII, dan sejumlah nama energi. Sektoral YTD, Financials memimpin sementara Energy dan Infrastructure tertekan paling dalam.
Kesimpulan praktisnya sederhana: peak rate menghilangkan satu sumber ketidakpastian, dan itu bagus. Tapi tanpa jalur menuju easing yang jelas — sesuatu yang sekarang belum ada — jangan berekspektasi reli yang durable. Gubernur BI berikutnya punya PR: mendefinisikan framework yang lebih tegas soal trade-off antara stabilitas dan pertumbuhan. Sampai itu terjawab, targeted liquidity dan intervensi akan tetap jadi senjata utama.