Mengapa Harga Saham BRMS Turun Dalam Beberapa Bulan Terakhir?
Koreksi harga saham BRMS dipengaruhi oleh domestic indexing-related selling atau tekanan jual yang berkaitan dengan perubahan dan penyesuaian indeks domestik. Namun, penurunan harga saham tidak selalu berarti fundamental perusahaan ikut memburuk. BRMS ditopang oleh kombinasi cadangan emas besar, peningkatan produksi, kenaikan kadar bijih, pendapatan berbasis dolar, dan potensi tembaga Gorontalo.
Produksi Emas Memasuki Fase Akselerasi
Aset utama BRMS adalah tambang emas Citra Palu Minerals atau CPM. Produksi emas CPM diproyeksikan naik dari sekitar 71.800 ounce pada 2025 menjadi sekitar 179.000 ounce pada 2028. Artinya, produksi emas BRMS berpotensi meningkat sekitar 149% atau hampir 2,5 kali lipat dalam tiga tahun.
Katalis utamanya adalah transisi menuju tambang bawah tanah River Reef. Produksi awal ditargetkan dimulai pada pertengahan 2027, sedangkan bijih dengan kadar lebih tinggi diperkirakan mulai masuk ke fasilitas pengolahan sejak akhir 2026.
Potensi Tembaga Gorontalo
Selain emas, BRMS memiliki potensi tembaga melalui Gorontalo Minerals. Dari estimasi nilai Gorontalo Minerals tersebut, sekitar US$516 juta berasal dari cadangan emas dan sekitar US$3,01 miliar berasal dari potensi tembaga. Potensi tembaga Gorontalo saat ini lebih tepat diperlakukan sebagai optionality. Nilainya dapat menjadi katalis besar apabila hasil pengeboran, cadangan ekonomis, perizinan, kebutuhan belanja modal, dan jadwal pengembangannya terbukti sesuai harapan.
Rupiah Lemah Bisa Menjadi Natural Hedge bagi BRMS
Sebagian besar pendapatan BRMS berasal dari penjualan emas dan perak dalam dolar AS, sementara sebagian biaya tenaga kerja dan jasa lokal menggunakan rupiah.

