LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

AADI: Laba 1H26 Lampaui Ekspektasi, ASP Jadi Kunci

Adaro Andalan Indonesia (AADI) membukukan kinerja 1H26 yang lebih kuat dari yang banyak orang antisipasi. Net profit semester pertama mencapai USD 473,8 juta, tumbuh 10% YoY — dan yang lebih penting, angka ini sudah menyerap lebih dari separuh full-year forecast. Kalau dilihat dari pace-nya, AADI sedang berjalan di atas target.

Driver utamanya jelas: ASP (average selling price) batu bara yang naik signifikan. Sepanjang 1H26, ASP rata-rata berada di USD 71,1/ton, naik 10% YoY. Di kuartal kedua saja, ASP sudah menyentuh USD 75,6/ton — naik 21% YoY dan 15% QoQ. Angka ini bahkan melampaui asumsi full-year yang sebelumnya dipasang di kisaran USD 67,4/ton. Artinya, ada ruang untuk earnings upgrade kalau harga batu bara tetap supportif hingga akhir tahun.

Sementara itu, sales volume memang sedikit turun ke 33,5 juta ton (-1% YoY) di 1H26 — tapi ini bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Volume masih in-line dengan forecast, dan penurunan tipis ini lebih dari ter-offset oleh kenaikan ASP yang jauh lebih besar. Revenue 1H26 tercatat USD 2,5 miliar (+6% YoY), dengan 2Q26 sendiri mencatat lonjakan revenue 22% YoY menjadi USD 1,5 miliar.

Dari sisi margin, ada perbaikan yang konsisten. Gross margin naik ke 30,7% dari 29,0% di 1H25. Operating margin ikut naik ke 26,0% (vs. 24,2%). Net margin juga membaik ke 18,6%. Memang cash cost naik sekitar 4% YoY akibat strip ratio yang lebih tinggi (4,4x di 2Q26 vs. 4,2x di 1Q26), tapi kenaikan ASP jauh lebih dominan sehingga margin tetap ekspansif.

Soal struktur penjualan, sekitar 30% produksi 1H26 diserap pasar domestik, sisanya ekspor. India menjadi buyer terbesar dengan porsi 19%, diikuti China di 9%. Ini mencerminkan positioning AADI yang solid sebagai supplier batu bara kalori menengah-rendah — segmen yang permintaannya masih kuat dari negara-negara berkembang Asia.

Dari sisi valuasi, AADI saat ini diperdagangkan di sekitar 5,2x forward P/E untuk FY2027F — angka yang cukup menarik untuk emiten batu bara dengan struktur biaya rendah dan risiko regulasi yang relatif lebih terkendali. AADI beroperasi di bawah lisensi IUPK (bukan IUP biasa), yang artinya royalty-nya memang lebih tinggi, tapi justru membuat risiko pemotongan RKAB lebih rendah dibanding peers. Dividend yield proyeksi juga berada di kisaran 7-8% untuk FY2026-2027F — menarik bagi investor yang mencari income dari sektor komoditas.

Risiko yang perlu diperhatikan: harga batu bara global masih volatile, dan jika ASP kembali terkoreksi ke bawah USD 65/ton, earnings momentum bisa berbalik cepat. Strip ratio yang terus merangkak naik juga perlu dimonitor karena berdampak langsung ke cash cost. Tapi selama demand dari India dan China tetap solid, tekanan ke bawah kemungkinan terbatas.