US bond market sedang mengirimkan sinyal yang tidak bisa diabaikan. 30-year Treasury yield sempat menembus 5.30% — level tertinggi dalam hampir dua dekade — sebelum akhirnya sedikit meredam setelah intervensi dari US Treasury. Angka ini bukan sekadar data teknikal; ini adalah indikasi bahwa pasar mulai mempertanyakan sustainability fiskal Amerika secara serius, di tengah utang nasional yang baru saja melewati USD 40 triliun dan belum ada tanda-tanda konsolidasi.
Respons US Treasury cukup mengejutkan: mengumumkan rencana untuk setidaknya menggandakan program buyback obligasi jangka panjang (10-30 tahun) menjadi USD 4 miliar. Treasury Secretary Bessent bahkan berkomitmen untuk membeli lebih banyak bila diperlukan — semacam 'Bessent put' di pasar obligasi. Tapi perlu diluruskan: USD 4 miliar itu sangat kecil dibanding total outstanding marketable Treasuries yang mendekati USD 30 triliun. Efeknya lebih ke sinyal psikologis dan peredam volatilitas, bukan katalis struktural yang akan menekan yields secara signifikan.
Driver utama kenaikan yields tetap sama: defisit fiskal yang membengkak, ketidakpastian kebijakan moneter pasca-Fed meninggalkan forward guidance, dan yang menarik — gelombang penerbitan obligasi korporat dari para AI hyperscaler yang ikut bersaing memperebutkan pool modal jangka panjang yang sama. Semua mata kini tertuju ke pidato Chair Warsh di Jackson Hole. Ada ruang bagi Fed untuk setidaknya mengklarifikasi reaction function-nya — seberapa lama mereka bersedia menahan suku bunga sambil menunggu inflasi kembali ke target 2%. Itu saja sudah cukup untuk sedikit meredakan tekanan di pasar.
Dari sisi data makro, arahnya relatif mendukung skenario Fed hold: payrolls melunak, retail sales Juli turun untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, dan housing starts tertekan oleh mortgage rates yang masih tinggi. Ada juga faktor teknis yang menarik — US statistical agency akan merevisi metodologi pengukuran PCE inflation mulai akhir September, yang secara retroaktif bisa menurunkan angka core PCE selama lima tahun terakhir. Gradual disinflation diperkirakan membawa core inflation mendekati 2% di 2027, membuka ruang untuk rate cuts — tapi bukan tahun ini.
Positioning yang masuk akal di tengah semua ini: prefer obligasi tenor 3-5 tahun yang lebih responsif terhadap disinflasi dan pelemahan labor market, dibanding extending duration ke long end yang masih rentan volatilitas. Untuk 10-year yield, skenario basis adalah konsolidasi di range 4.50-4.75%. Break di atas 5% bisa terjadi tapi kemungkinan bersifat temporer — dan justru bisa menjadi entry point yang menarik.
USD dalam kondisi ini berfungsi sebagai pressure release valve. Ketika Treasury aktif menekan yields sementara utang terus naik, pelemahan dolar adalah konsekuensi logis — dan ini bullish untuk gold. Level USD 4,400/oz sudah ditembus, dengan target berikutnya di USD 4,900/oz. Near-term profit taking risk ada, tapi tren besarnya masih konstruktif.
Yang paling menarik justru di sisi ekuitas, khususnya tema AI. Setelah serangkaian pertemuan langsung dengan pemimpin industri AI di AS, Taiwan, dan Korea, ada revisi signifikan ke atas pada proyeksi AI capex. Angkanya sekarang: USD 750 miliar di 2026 (tumbuh 85% year-on-year), dan diproyeksikan menembus USD 1 triliun di 2027. CAGR jangka panjang 2025-2030 direvisi naik ke 33%. Ini bukan angka yang dibuat-buat — konsisten dengan apa yang terlihat dari earnings season terbaru dan backlog yang terus tumbuh di sisi cloud dan token demand.
Implikasinya untuk ekuitas jelas: bullish untuk US technology dan communication services. Siklus investasi AI dinilai masih di tahap awal, tanpa tanda-tanda perlambatan yang berarti. Conviction pada Big Tech dan semikonduktor tetap kuat.
Untuk China equities, Q2 earnings season memberikan hasil yang cukup solid — full-year 2026 earnings growth forecast direvisi naik ke 12.5% y/y. Tapi upside-nya tidak merata: AI infrastructure, farmasi, dan energi outperform, sementara consumer-facing businesses seperti F&B, apparel, dan properti masih berjuang di tengah lemahnya domestic demand. Valuasi MSCI China di 11x forward P/E — di bawah rata-rata lima tahun 12x — membuat risk/reward tetap menarik, terutama dengan policy support dan AI localisation tailwinds yang masih berjalan.