LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

ANTM: Emas & Nikel Kompak, Upside 26%?

Di tengah volatilitas harga komoditas global, ANTM justru tampil dengan momentum operasional yang cukup solid di kuartal kedua 2026. Bukan hanya satu segmen — hampir semua lini bisnis menunjukkan perbaikan yang terukur, dan ini yang membuat tesisnya menarik untuk dicermati lebih dalam.

Segmen emas, yang menyumbang sekitar 81% dari total revenue, mencatat produksi 2Q26 sebesar 7,5 ribu oz (+15,4% QoQ) dengan volume penjualan 9,6 ton (+13,6% QoQ). Secara kumulatif, 1H26 sales sudah mencapai 18,1 ton — atau sekitar 55% dari estimasi konservatif FY26 di 32,8 ton. Ada satu catatan penting soal pricing: gold ASP di 2Q26 kemungkinan turun secara QoQ mengikuti koreksi harga emas global ke kisaran USD4.521/oz dari USD4.860/oz di 1Q26. Tapi dalam perspektif YoY, gambarannya jauh lebih bullish — average gold ASP di 1H26 sekitar USD4.690/oz versus hanya USD3.204/oz di 1H25, atau naik hampir 46% YoY. Structural tailwind harga emas masih sangat nyata.

Yang lebih mengejutkan justru datang dari segmen nikel. Ferronickel sales melonjak +71,3% QoQ ke 4,8 ribu ton, dengan demand yang terserap efisien oleh pasar ekspor — China, India, dan Korea Selatan. Secara YoY, angkanya bahkan naik +419,7%. Ore production relatif stabil di 3,9 juta wmt, sementara segmen bauxite juga memberikan kontribusi positif: sales volume naik +11,9% QoQ dan +38% YoY. Alumina production dan sales pun tumbuh masing-masing +2,3% dan +4,7% QoQ.

Dari sisi financial outlook FY26, proyeksinya cukup compelling. Revenue diperkirakan mencapai IDR99,8 triliun (+18% YoY), dengan asumsi harga emas rata-rata USD4.400/oz dan nikel USD17.450/ton. Gross margin diproyeksikan naik ke 17,5% dari 16,2% di FY25, EBITDA margin ke 12,2% dari 10,9%, dan net profit tumbuh +23,1% YoY ke IDR8,9 triliun. Trajectory profitabilitasnya jelas — bukan sekadar driven by price, tapi juga oleh perbaikan efisiensi operasional.

Dari sisi valuasi, ANTM saat ini diperdagangkan di 8,6x forward P/E dan 5,9x EV/EBITDA. Dibandingkan peers seperti AMMN yang ada di 19,5x P/E atau MBMA di 16x, ANTM terlihat jauh lebih murah — meski dengan ROE yang diproyeksikan mencapai 23,3% di FY26F dan terus meningkat ke 27,3% di FY28F. Dalam konteks peer comparison, discount-nya cukup sulit untuk diabaikan.

Yang menjadi growth catalyst jangka menengah adalah akselerasi downstreaming. Di segmen emas, fasilitas precious metals JIIPE sedang dalam tahap pre-construction. Di nikel, JV battery EV bersama CATL (HKCBL) sudah mulai konstruksi sejak 4Q25, ditambah perjanjian integrated mining-to-battery dengan IBC dan Huayou Cobalt yang ditandatangani Januari 2026. Sementara di bauxite, fasilitas SGAR Mempawah sudah commercial launch per Februari 2026 dan sedang ramp-up menuju kapasitas Phase I sebesar 1 juta ton alumina, dengan Phase II sudah groundbreaking.

Key risks yang perlu diperhatikan: koreksi tajam gold ASP jika sentimen risk-on kembali menekan harga safe haven, kendala RKAB quota untuk nickel ore yang bisa membatasi volume, dan potensi delay pada proyek-proyek downstreaming yang timeline-nya masih panjang. Ketiga risiko ini bukan tidak mungkin terjadi secara bersamaan — dan kalau itu terjadi, tekanan ke earnings bisa cukup signifikan.

Bagikan artikel ini