LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BFIN di 1.0x PBV: Murah atau Jebakan?

BFI Finance (BFIN) saat ini diperdagangkan di sekitar IDR875 per saham — atau sekitar 1.0–1.2x trailing PBV. Untuk perusahaan multifinance dengan ROAE di atas 15%, angka itu tergolong murah secara historis. Pertanyaannya bukan sekadar apakah saham ini undervalued, tapi kenapa pasar masih skeptis, dan apakah skeptisisme itu sudah terlalu berlebihan.

Hasil 6M26 BFIN datang di atas ekspektasi — net profit tumbuh +8.7% YoY menjadi IDR829 miliar, mencapai 55.6% dari full-year forecast. Yang lebih menarik bukan angka topline-nya, tapi komposisinya: earnings di 2Q26 melonjak +33.9% QoQ, didorong oleh penurunan tajam provisioning sebesar -48.3% QoQ. Ini bukan kebetulan — ini adalah hasil dari strategi front-loaded provisioning yang dilakukan BFIN sepanjang 1H26, di mana cost of credit sempat mencapai 6.8% di 1Q26 sebelum turun ke 5.2% di 2Q26.

Artinya, tekanan terbesar sudah diambil di depan. Untuk 2H26, CoC diproyeksikan turun ke kisaran 4.0% atau bahkan di bawahnya — jauh lebih baik dari guidance sebelumnya di 4.1–4.5%. NPF ratio stabil di 1.8%, coverage ratio masih solid di 263%, dan DER terjaga di 1.2x. Balance sheet BFIN tidak dalam kondisi tertekan; ini lebih ke soal demand environment yang masih lemah.

Memang, financing growth harus direvisi turun cukup signifikan — dari low-teens menjadi sekitar ~5%. Gross receivables bahkan turun -2.0% QoQ di 2Q26. Kenaikan suku bunga dan permintaan pembiayaan yang masih selektif jadi kendala utama. Tapi di sisi lain, NIM justru membaik ke 18.7% (dari 18.5% di 1Q26), dan proyeksi NIM full-year 2026 dinaikkan ke 19.4% — tertinggi dalam lima tahun terakhir. Earning assets yield naik ke 22.5%, sementara cost of funds relatif terkendali di 6.6%.

Dari sisi valuation, BFIN saat ini diperdagangkan jauh di bawah rata-rata historis PBV-nya yang sekitar 1.4x, bahkan mendekati -1 standar deviasi. Dengan justified PBV 2026 di 1.6x — menggunakan asumsi sustainable ROAE 16.6%, cost of equity 12.3%, dan long-term growth 5% — implied target price-nya ada di IDR1.300, atau upside sekitar 48% dari harga sekarang.

Satu layer tambahan yang menarik perhatian adalah rumor M&A. Jika mengacu pada transaksi multifinance sebelumnya — Home Credit Indonesia di 2023 (3.0x PBV) dan MFIN di 2024 (2.6x PBV) — BFIN saat itu diperdagangkan di 2.1–2.3x trailing PBV, dengan acquisition multiple sekitar 1.3x di atas market PBV. Jika pola yang sama berlaku, potential transaction valuation bisa berada di sekitar 1.6x PBV untuk majority stake, atau bahkan ~2.0x PBV jika ada control premium. Tapi ini tetap skenario what-if — belum ada konfirmasi transaksi apapun, dan tidak seharusnya menjadi basis utama keputusan investasi.

Yang menjadi core thesis tetap sederhana: BFIN adalah perusahaan dengan profitabilitas solid (ROAE menuju 16.5–17% dalam dua tahun ke depan), balance sheet yang sehat, dan provisioning cycle yang kemungkinan besar sudah melewati puncaknya. Harga saat ini mencerminkan terlalu banyak kekhawatiran terhadap growth slowdown, sementara perbaikan asset quality di 2H26 belum sepenuhnya dipriced-in pasar.

Dividend yield-nya pun tidak bisa diabaikan — proyeksi yield 2026 ada di 9.3%, naik menjadi 10.2% di 2027 dan 11.3% di 2028. Untuk investor yang bersedia menunggu normalisasi siklus, struktur risk-reward BFIN saat ini terlihat cukup asimetris.