Kuartal kedua 2026 jadi periode yang sulit untuk BRMS. Perusahaan tambang emas ini mencatat net loss sebesar US$4,78 juta di Q2 2026, berbalik tajam dari net profit US$18,06 juta di kuartal sebelumnya. Revenue anjlok dari US$69,5 juta di Q1 menjadi hanya US$26,3 juta — kontraksi lebih dari 60% quarter-on-quarter. Ini bukan sekadar perlambatan, ini penurunan yang cukup dalam dan patut dibedah.
Ada tiga hal yang menyeret kinerja. Pertama, operasi pushback di tambang River Reef, Poboya (Palu). Secara teknis ini bagian normal dari mining sequencing — semacam membuka lapisan baru untuk mengakses cadangan di bawahnya — tapi konsekuensinya produksi turun drastis selama fase pengupasan. Gold output yang terjual jatuh dari 14.790 oz di Q1 menjadi cuma 6.301 oz di Q2. Head grade juga ikut merosot, dari 1,42 g/t ke 0,90 g/t. Manajemen mengklaim aktivitas ini sudah diantisipasi dan dikomunikasikan jauh-jauh hari, dan penambangan di bukaan baru sudah dimulai sejak H2 2026.
Kedua, dan ini yang menarik, ada masalah di sisi penjualan. Pasar emas domestik disebut mengalami oversupply karena banyak eksportir memilih menjual ke pasar lokal ketimbang ekspor. Akibatnya, pembeli lokal mulai minta harga diskon, dan BRMS hanya berhasil menjual sekitar 70% dari produksinya. Jadi masalahnya ganda: produksi turun karena pushback, lalu yang diproduksi pun tidak semuanya laku terjual di harga wajar.
Untuk meredam risiko ini, anak usaha BRMS, PT Citra Palu Minerals, menandatangani perjanjian offtake dengan ANTM di akhir Juni 2026. Sebagian besar produksi emas akan dijual ke ANTM setiap bulan di harga yang disebut kompetitif, berlaku sampai Juni 2028. Ini langkah pengamanan yang masuk akal — mengunci pembeli di tengah pasar yang sedang oversupply lebih baik ketimbang tergantung pada spot buyer yang menekan harga.
Faktor ketiga di luar kendali perusahaan: average selling price emas turun dari US$4.512/oz di Q1 ke US$4.138/oz di Q2. Meski begitu, secara year-on-year harga jual justru naik signifikan dibanding H1 2025 yang cuma US$3.045/oz. Jadi tekanan Q2 ini lebih ke volume, bukan harga jangka panjang.
Yang membuat cerita ini punya sisi konstruktif adalah pipeline ekspansi. Beberapa katalis yang layak dipantau:
- Peningkatan kapasitas pabrik dari 500 ke 2.000 ton bijih per hari, ditargetkan rampung akhir tahun ini
- Rencana penambangan bijih high-grade (3,5–4,9 g/t) dari tambang bawah tanah mulai H2 2027
- Offtake ANTM yang memberi kepastian penjualan hingga 2028
Intinya, Q2 2026 adalah kuartal transisi yang jelek di atas kertas. Pertanyaan sebenarnya bukan seberapa buruk angka ini, melainkan apakah pemulihan H2 yang dijanjikan benar-benar terealisasi. Kalau produksi rebound seiring bukaan tambang baru dan kapasitas pabrik quadruple sesuai jadwal, angka Q2 hanya akan jadi trough sementara. Kalau meleset, narasi turnaround-nya jadi jauh lebih rapuh.