Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat jadi salah satu katalis demand terbesar untuk sektor poultry kini mengalami revisi signifikan. Target penerima 2026 dipangkas dari 82,9 juta menjadi sekitar 63 juta — menyusul proses verifikasi data lintas kementerian yang menemukan sekitar 6 juta identitas duplikat dalam database pemerintah. Per 1H26, realisasi anggaran MBG sudah mencapai Rp101,1 triliun dengan 63,13 juta penerima aktual.
Pertanyaannya: seberapa besar dampak pemotongan ini ke demand ayam?
Jawabannya lebih melegakan dari yang dikhawatirkan. Pasar poultry Indonesia pada 2026 diperkirakan masih dalam kondisi undersupply sekitar 12%, dan kondisi ini lebih banyak didorong oleh sisi supply yang memang sudah terkontraksi — bukan semata-mata karena MBG. Artinya, bahkan tanpa MBG sekalipun, pasar sudah relatif ketat dari sisi ketersediaan ayam.
Yang menarik adalah skenario 2027. Jika pemotongan MBG berlanjut (dengan estimasi 57,1 juta penerima sepanjang tahun), demand total memang turun, dan pasar bisa kembali ke kondisi oversupply sekitar 7% — mirip dengan level FY25. Angka ini sebenarnya masih terbilang manageable. Tapi ada variabel lain yang bisa mengubah kalkulasi ini: impor GPS (grandparent stock). Jika realisasi impor GPS hanya mencapai 700 ribu ekor (di bawah asumsi awal 800 ribu), maka supply ikut tertekan, dan oversupply 2027 bisa menyusut ke level 2% saja — jauh lebih sehat.
Di sisi harga, momentum sedang membaik. Harga livebird (LB) yang sempat tertekan di Juli akibat seasonal weakness — periode Suro dan liburan sekolah — sudah rebound kuat. Per pertengahan Agustus, harga LB mencapai Rp25.100/kg, dengan rata-rata MTD Agustus di Rp23.900/kg, naik 25% mom dari Juli. Harga DOC pun mulai pulih ke Rp5.300/chick di Juli dari Rp3.500/chick di Juni, meski masih di bawah rata-rata YTD26 sebesar Rp5.700/chick.
Dari sisi valuasi, CPIN saat ini diperdagangkan di sekitar -1,6 standar deviasi dari rata-rata 5 tahunnya — level yang secara historis menarik untuk entry. Underperformance YTD saham ini membuka peluang bagi investor yang percaya pada normalisasi harga LB dan perbaikan supply-demand. Target price yang digunakan sebagai acuan berada di Rp5.900 dengan P/E forward 2026F di 8,0x dan 2027F di 7,5x.
JPFA juga tidak kalah menarik dari sisi valuasi — P/E 2026F hanya 6,3x dengan ROE proyeksi 2027F mencapai 20%. MAIN memang punya valuasi paling murah (P/BV 0,4x), tapi dengan ROE yang jauh lebih rendah di 5,8%, risk-reward-nya perlu dicermati lebih hati-hati.
Satu risiko yang perlu diperhatikan adalah gangguan pasokan bahan baku — jagung dan kedelai sebagai komponen utama pakan ternak tetap rentan terhadap volatilitas harga global dan kebijakan impor. Selain itu, kebijakan one-door import yang sedang berlaku bisa berdampak berbeda-beda terhadap masing-masing emiten, dan CPIN disebut sebagai yang paling terdampak minimal dari kebijakan tersebut.
Intinya: pemotongan MBG bukan bencana bagi sektor ini. Supply yang ketat di 2026 memberikan buffer yang cukup, dan jika impor GPS memang lebih rendah dari target, 2027 pun tidak akan se-bearish yang dikuatirkan.