Angka headline-nya memang terlihat impresif — net profit Darma Henwa (DEWA) di 1H26 mencapai Rp354,2 miliar, tumbuh 111% YoY. Tapi begitu angka itu dibedah, gambarannya jauh lebih kompleks dari yang terlihat di permukaan.
Sebagian besar lonjakan laba itu bersumber dari unrealized gain perubahan fair value investasi sebesar Rp255,7 miliar — bukan dari operasional inti. Kalau angka itu distripping, core profit DEWA di 1H26 hanya Rp98,5 miliar, turun 41% YoY. Jauh dari ekspektasi.
Yang menekan core earnings adalah dua hal: interest expenses yang melonjak 70% YoY menjadi Rp207,2 miliar, dan operating expenses yang membengkak karena kenaikan salaries & wages hingga 47% YoY. Revenue 1H26 sendiri hanya tumbuh 3% YoY ke Rp3,1 triliun — angka yang cukup modest untuk emiten di sektor ini.
Di sisi operasional, ada perkembangan yang lebih positif. In-house OB removal contribution naik signifikan ke 83% di 1H26, dibandingkan hanya 66% di periode yang sama tahun lalu. Di 2Q26 saja, angkanya sudah mencapai 89% — ini terjadi setelah DEWA mengambil alih operasi PAMA di Bengalon per April 2026. Shift ini penting karena in-house removal secara struktural lebih efisien dari sisi margin. Gross margin sudah naik ke 19,1% (vs 15,3% di 1H25) dan operating margin ke 12,8% (vs 11,2%).
Ke depan, ada beberapa katalis yang perlu dipantau:
- Kontrak baru Sebuku Sejaka Coal — ditandatangani Juni 2026, dengan kapasitas hingga 5 juta ton batubara dan 55 juta bcm OB removal per tahun. Kontribusi ke earnings baru akan terasa di 4Q26.
- Target 100% in-house OB removal di 2026 — kalau tercapai, ini akan menekan biaya subkontraktor secara permanen dan mendukung margin lebih lanjut.
- Eksplorasi Gayo Mineral masih di fase kedua, dengan angka full reserve & resource baru diperkirakan keluar di 2027. Ini masih terlalu jauh untuk jadi driver jangka pendek.
Dari sisi valuation, saham DEWA saat ini diperdagangkan di kisaran Rp478 dengan target price Rp700 — implied upside sekitar 46%. P/E 2026F berada di 39,3x, turun ke 33,2x di 2027F seiring proyeksi EPS growth 18,3%. EV/EBITDA 12,2x untuk 2026F juga bukan angka yang murah untuk emiten batubara kontraktor.
Risiko utama yang perlu diperhatikan: beban bunga yang tinggi bisa terus menekan bottom-line kalau revenue growth tidak akselerasi, sementara kontribusi kontrak baru baru akan terasa di akhir tahun. Investor yang masuk sekarang pada dasarnya sedang bet bahwa 2H26 akan jauh lebih kuat dari 1H — sebuah asumsi yang masuk akal tapi belum sepenuhnya terkonfirmasi oleh angka.