Kalau ada satu saham di sektor mining yang layak diikuti serius tahun ini, EMAS adalah kandidat kuat. PT Merdeka Gold Resources sedang menjalankan apa yang berpotensi menjadi salah satu gold mine terbesar di Asia-Pasifik — dan bukan sekadar proyek di atas kertas. Produksi sudah berjalan.
Pani Gold Project di Gorontalo, Sulawesi, duduk di atas resource ~7.4Moz emas (termasuk maiden Kolokoa resource yang baru diumumkan 2Q26), dengan reserves 5.2Moz pada cut-off USD2,300/oz. Skala ini bukan main — secara regional, Pani masuk dalam kelompok teratas undeveloped primary gold deposits di Asia-Pasifik.
Yang menarik bukan hanya ukurannya, tapi kecepatan eksekusinya. Management memutuskan untuk mempercepat dan memperbesar kedua jalur processing secara bersamaan: heap leach dinaikkan dari 7Mtpa ke 8Mtpa, sementara CIL plant yang semula direncanakan mulai di 7.5Mtpa langsung di-rescope ke 12Mtpa untuk first production 2028. Efeknya? Peak production ~480-545koz/tahun tercapai sekitar tiga tahun lebih cepat dari rencana awal yang menyebut 2033. Dari sisi earnings, ini diterjemahkan ke CAGR ~64% untuk periode FY26–29F — angka yang sulit diabaikan.
Dari sisi cost structure, Pani berada di posisi yang solid. AISC termasuk royalty di kisaran USD1,500–1,600/oz menempatkannya di lower half of the global cost curve. Dengan harga emas yang saat ini jauh di atas level tersebut, EBITDA margin ~60% bukan angka yang dipaksakan — itu angka yang realistis dan sustainable. Ditambah revolving credit facility USD150mn yang sudah ditandatangani April 2026 (SOFR + 2.00%), balance sheet terlihat cukup untuk menanggung capex build-out 2026–2035 tanpa harus terlalu bergantung pada equity dilution.
Dua jalur processing yang dipakai Pani — heap leach dan Carbon-in-Leach — bukan pilihan either/or, melainkan strategi yang saling melengkapi. Heap leach (recovery ~81.6%) lebih murah dibangun, cepat menghasilkan cash flow, dan tidak butuh tailings dam. Ini yang membuat EMAS bisa masuk ke produksi lebih awal dan mulai self-fund. CIL (recovery ~93.0%) adalah jalur yang lebih intensif secara capex — butuh milling circuit lengkap, lebih banyak power dan reagent, serta TSF — tapi recovery yang lebih tinggi memaksimalkan gold extraction di jangka panjang. Kombinasi keduanya memberi Pani keunggulan early cash flow sekaligus long-term extraction efficiency.
Update produksi terbaru cukup meyakinkan. Output 2Q26 naik ke 15,594oz dari hanya 1,818oz di 1Q26 — ramp-up yang signifikan. Guidance FY26 tetap di 100–115koz gold sales, dengan AISC full-year diarahkan ke USD1,300–1,450/oz seiring volume yang terus naik di 2H26. Secondary listing di HKEX pada Juni 2026 juga memperluas investor base ke pasar regional.
Beberapa hal yang perlu dimonitor ke depan:
- Heap-leach ramp-up — stacking volumes dan gold recovery seiring tambahan pad space dan crushing capacity
- CIL construction milestones — penyelesaian milling-area pad ditarget akhir 2026, contractor mobilisation dari 3Q26
- Grade reconciliation — apakah actual ore grade sesuai model ketika mining rate meningkat
- Cost trajectory — normalisasi AISC kembali ke guidance setelah distorsi ramp-up di 2Q26
Key risks yang tetap relevan: volatilitas harga emas, perubahan regulasi pertambangan, dan execution risk yang inheren dalam accelerated development. Dengan target price IDR 9,125 versus harga saat ini di IDR 6,850, ada implied upside yang cukup besar — tapi thesis ini sepenuhnya bergantung pada seberapa mulus ramp-up berjalan dan apakah gold price tetap supportif sepanjang build-out.