Kalau ada satu saham di sektor tambang yang layak masuk watchlist serius tahun ini, EMAS (Merdeka Gold Resources) adalah kandidat kuat. Proyeknya — Pani Gold Project di Gorontalo, Sulawesi — bukan sekadar tambang emas biasa. Ini adalah salah satu primary gold deposit terbesar di Asia-Pasifik, dengan total mineral resource ~291.5Mt pada grade 0.75g/t untuk sekitar 7.0Moz emas, plus tambahan dari maiden resource Kolokoa yang mengangkat total resource ke kisaran 7.4Moz. Reserves-nya sendiri sudah 5.2Moz — angka yang menempatkan Pani sejajar dengan tambang-tambang kelas dunia.
Yang menarik bukan hanya skalanya, tapi kecepatan eksekusinya. Produksi emas pertama sudah dimulai di 1Q26, dan pada 2Q26 output heap leach sudah naik ke 15,594oz dari hanya 1,818oz di kuartal sebelumnya. Guidance full-year FY26 ada di 100–115koz gold sales, dan manajemen terlihat on track untuk mencapainya. AISC saat ini masih di atas guidance karena efek ramp-up, tapi trajectory-nya sedang turun menuju target USD1,300–1,450/oz untuk tahun ini.
Struktur produksinya dibangun dua lapis. Heap leach (HL) sudah berjalan dari 2026 dengan kapasitas 8Mtpa — naik dari rencana awal 7Mtpa. Ini adalah jalur low-capex, fast-to-cash yang memberi EMAS early revenue sebelum pabrik utamanya selesai. Kemudian mulai 2028, Carbon-in-Leach (CIL) plant akan mulai beroperasi langsung di kapasitas 12Mtpa — jauh lebih besar dari rencana awal 7.5Mtpa. Kombinasi keduanya memberi combined throughput ~19Mtpa di plateau, dengan mine life melewati 2040 dan peak production guidance manajemen di ~545koz/tahun.
Percepatan ini punya implikasi besar ke earnings. Dengan CIL yang dimajukan dan kapasitas yang di-scale up, peak production yang sebelumnya dimodelkan baru tercapai di 2033 kini bisa datang tiga tahun lebih awal. Hasilnya: proyeksi earnings CAGR sekitar 64% untuk periode FY26–29F. Angka yang cukup agresif, tapi didukung oleh trajectory produksi yang sudah terlihat nyata di lapangan.
Dari sisi cost structure, Pani berada di posisi yang cukup nyaman. AISC termasuk royalti di kisaran USD1,500–1,600/oz menempatkannya di lower half of the global cost curve. Dengan harga emas saat ini yang masih elevated, ini menghasilkan EBITDA margin sekitar ~60% — cukup untuk largely self-fund ekspansi CIL tanpa terlalu bergantung pada utang. EMAS juga sudah mengamankan revolving credit facility USD150mn (SOFR + 2.00%) sebagai buffer likuiditas selama fase capex-heavy 2026–2028.
Beberapa hal yang perlu dimonitor ketat ke depan:
- Grade reconciliation — apakah actual grade sesuai model geologi saat mining rate meningkat, terutama ketika CIL mulai beroperasi di ore yang lebih hard rock
- CIL construction milestones — completion milling-area pad dan mobilisasi kontraktor dari 3Q26 adalah checkpoint kritis
- HL ramp-up — stacking volume, irrigation coverage, dan recovery rate di pad yang baru
- Gold price realisation — dengan AISC ~USD1,500/oz, buffer terhadap penurunan harga emas ada tapi tidak unlimited
Risiko eksekusi memang nyata — ini proyek yang sedang dalam fase akselerasi agresif, bukan operasi yang sudah mature. Tapi infrastruktur besar sudah ada: jalan, pelabuhan, koneksi PLN high-voltage, dan base camp permanen sudah berdiri. Itu bukan hal kecil untuk tambang di lokasi seperti Gorontalo. Secondary listing di HKEX yang dilakukan Juni lalu juga memperluas investor base, yang secara historis positif untuk likuiditas dan re-rating valuation.
Dengan harga saham di IDR6,850 versus target price IDR9,125, ada potential upside sekitar 33% — belum termasuk optionality dari resource growth di Lone Pine dan target eksplorasi yang masih aktif di-drill.