Headline earnings season Amerika terdengar luar biasa: EPS S&P 500 tumbuh 45% YoY di Q2 2026. Tapi angka itu menyimpan distorsi yang cukup besar untuk diabaikan begitu saja.
Tanpa memasukkan other income dari portofolio investasi ekuitas yang dipegang perusahaan mega-cap tech seperti Nvidia, Amazon, Alphabet, dan Microsoft, pertumbuhan EPS indeks sebenarnya berada di 26%. Selisih 19 percentage points itu bukan berasal dari pertumbuhan bisnis inti—melainkan dari unrealized atau realized gains portofolio saham yang mereka miliki. Di Q1 2026, efek yang sama mengangkat angka dari 20% menjadi 27%.
Yang lebih menarik adalah gap antara aggregate index dan median stock. Sepanjang 2024 hingga 2026, median stock—yang merepresentasikan perusahaan tipikal di dalam indeks—tumbuh jauh lebih lambat, berkisar 6% hingga 13% per kuartal. Di Q2 2026, saat aggregate index mencatat 45%, median stock hanya tumbuh 12%. Artinya, lonjakan EPS indeks sangat terkonsentrasi di segelintir nama besar, bukan mencerminkan kesehatan earnings yang merata di seluruh pasar.
Pola ini konsisten sejak 2024. Setiap kali aggregate index terlihat akseleratif, median stock tetap bergerak dalam rentang yang jauh lebih modest. Ini bukan anomali satu kuartal—ini adalah struktur pasar yang sudah terbentuk cukup lama, di mana bobot mega-cap tech mendominasi perhitungan indeks secara agregat.
Ke depan, konsensus bottom-up memproyeksikan pertumbuhan aggregate index mulai melambat signifikan: Q2 2027 diperkirakan hanya tumbuh 2%, sebelum kembali ke kisaran 17% di paruh kedua 2027. Perlambatan tajam ini sebagian besar karena efek base yang tinggi dari lonjakan other income di 2026—begitu gain portofolio tidak lagi berulang dalam skala yang sama, angka YoY akan terkoreksi secara mekanis.
Konteks ini penting ketika membahas valuasi. Pasar saham AS saat ini berada di level valuasi tertinggi secara historis. Jika sebagian dari pertumbuhan EPS yang mendukung valuasi tersebut bersumber dari investment gains—bukan dari operating leverage atau revenue growth—maka kualitas earnings yang menopang multiple saat ini perlu dilihat dengan lebih hati-hati. P/E berbasis earnings yang mengandung komponen non-recurring akan terlihat lebih murah dari yang seharusnya.
Bagi investor yang membangun tesis berdasarkan earnings growth S&P 500, penting untuk membedakan antara growth yang datang dari bisnis inti versus yang datang dari fluktuasi nilai portofolio. Keduanya masuk ke EPS, tapi implikasinya terhadap sustainability pertumbuhan sangat berbeda.