Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya sebagai perusahaan publik, GOTO membukukan dua kuartal berturut-turut dengan net profit positif. Di 1H26, net revenue naik ke Rp10,99 triliun (+28,4% YoY), sementara group adjusted EBITDA lebih dari dua kali lipat menjadi Rp1,92 triliun (+133,8% YoY). Net profit tercatat Rp607 miliar — membalik net loss Rp580 miliar di periode yang sama tahun lalu. Ini bukan sekadar perbaikan margin tipis. Ini pergeseran fundamental dalam struktur bisnis GOTO.
Yang paling menarik adalah dari mana pertumbuhan itu datang. Segmen Fintech kini bukan lagi second fiddle di balik ODS. Di 2Q26, Fintech adjusted EBITDA mencapai Rp481 miliar — melampaui ODS adjusted EBITDA (Rp464 miliar) untuk pertama kalinya. Fintech net revenue tumbuh +52,7% YoY ke Rp2,07 triliun, sementara Fintech core GTV menembus Rp157,33 triliun (+91,3% YoY). Monthly transacting users di segmen ini sudah 28,8 juta, tumbuh 29% YoY, dengan total transaksi 2,4 miliar (+91% YoY). Loan book juga mengembang ke Rp11,0 triliun (+57,9% YoY), dengan pendekatan lending yang semakin selektif berbasis data transaksi ekosistem — sebuah competitive moat yang tidak mudah direplikasi pemain luar.
Merespons outperformance ini, manajemen menaikkan FY26 Fintech adjusted EBITDA guidance ke Rp1,7–1,8 triliun dari sebelumnya Rp1,4–1,5 triliun. Ini sinyal kepercayaan diri yang cukup kuat dari internal.
Di sisi lain, ODS menghadapi headwind regulasi. Kebijakan pembatasan komisi 8% yang berlaku mulai 1 Juli 2026 saat ini hanya menyasar GoRide — layanan transportasi roda dua yang berkontribusi sekitar 7% dari group net revenue. Dampak langsungnya memang masih manageable di level konsolidasi, tapi manajemen sudah menurunkan FY26 ODS adjusted EBITDA guidance ke Rp1,4–1,5 triliun dari Rp1,7–1,8 triliun. Menariknya, group adjusted EBITDA guidance tetap dipertahankan di Rp3,2–3,4 triliun — artinya shortfall ODS diekspektasikan sepenuhnya dikompensasi oleh Fintech.
Dari sisi valuation, saham GOTO saat ini diperdagangkan di sekitar Rp50, dengan target price Rp100 — implied upside 100%. EV/EBITDA forward 2026F berada di 7,9x, turun ke 6,9x di 2027F dan 4,9x di 2028F. Net profit diproyeksikan tumbuh ke Rp2,14 triliun di 2027F dan Rp3,15 triliun di 2028F, dengan ROE yang mulai membaik dari 2,8% (2026F) ke 8,3% (2028F). Balance sheet tetap solid dengan posisi net cash di semua periode proyeksi.
Tapi ada beberapa risiko yang tidak boleh diabaikan. Pertama, jika cakupan commission cap 8% diperluas ke segmen ODS lain seperti GoFood atau GoSend, tekanan pada earnings bisa jauh lebih signifikan dari yang saat ini dipriced in. Kedua, competitive landscape di ruang fintech Indonesia semakin ramai — dari perbankan digital hingga platform e-commerce yang agresif membangun layanan keuangan. Ketiga, macro headwinds seperti pelemahan daya beli dan tekanan suku bunga bisa memperlambat pertumbuhan loan book. Ketiga faktor ini bersifat kumulatif, bukan alternatif.
Yang jelas, thesis investasi GOTO kini sudah bergeser dari "kapan profitabel?" menjadi "seberapa sustainable profitabilitasnya?" Dan jawaban atas pertanyaan itu sangat bergantung pada seberapa jauh regulasi akan menjangkau bisnis ODS mereka.