IHSG membukukan penguatan mingguan yang cukup solid — naik 2,78% dan ditutup di 6.409,65 pada Jumat (7/8). Dalam satu pekan, ini bukan pergerakan kecil. Momentum terasa, tapi ada beberapa hal yang perlu dibaca lebih cermat sebelum terlalu optimistis.
Dari sisi sektoral, infrastruktur jadi pemimpin dengan kenaikan +2,17% di hari terakhir perdagangan. Satu-satunya sektor yang menutup pekan dengan negatif adalah consumer cyclical (-0,69%) — sinyal bahwa selera risiko investor memang sedang bergeser ke sektor yang lebih defensif atau berbasis proyek, bukan konsumsi. Rupiah juga ikut menguat tipis 0,15% ke Rp17.897/US$, dibantu oleh pelemahan DXY yang menciptakan ruang bagi aset emerging market untuk napas sejenak.
Di sisi makro, ada dua data yang layak dicermati. Pertama, cadangan devisa turun dari US$145,6 miliar di Juni menjadi US$145,3 miliar di Juli. Penurunannya memang kecil, tapi konteksnya penting: penurunan ini didorong kombinasi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi Bank Indonesia untuk menjaga Rupiah. Artinya, BI masih aktif di pasar. Cadangan segini masih dalam zona aman untuk meredam volatilitas jangka pendek, tapi menunjukkan bahwa Rupiah belum sepenuhnya berdiri sendiri — masih perlu penyangga.
Kedua, harga properti residensial tumbuh 0,69% YoY di 2Q26, naik tipis dari 0,62% di kuartal sebelumnya. Angka ini belum cukup kuat untuk memicu re-rating besar di sektor properti. Lebih tepat dibaca sebagai sinyal stabilisasi — bukan akselerasi. Jadi bagi yang berharap saham-saham properti tiba-tiba re-rate signifikan hanya dari data ini, ekspektasinya perlu disesuaikan.
Yang paling menarik secara teknikal adalah formasi Golden Cross MACD di chart weekly IHSG. Histogram MACD sudah masuk zona positif, dan ini secara historis merupakan sinyal bullish yang cukup reliable untuk momentum jangka menengah. Tapi ada satu catatan besar: Stochastic RSI sudah di area overbought. Dua sinyal ini tidak saling membatalkan, tapi dibaca bersama artinya: tren membaik, tapi jangan kaget kalau ada konsolidasi atau pullback jangka pendek sebelum IHSG bisa lanjut naik.
Level yang perlu diawasi pekan depan adalah MA20 weekly di sekitar 6.488. Ini resistance terdekat yang krusial. Kalau IHSG mampu menembus dan menutup di atas level ini, 6.500 jadi target berikutnya yang sangat realistis. Sebaliknya, kalau gagal breakdown dari resistance ini, zona support 6.300–6.370 jadi area yang relevan untuk diantisipasi. Support lebih dalam ada di 6.150 kalau sentimen memburuk lebih jauh.
Intinya: penguatan 2,78% dalam sepekan itu nyata dan didukung oleh beberapa faktor yang solid. Tapi resistance teknikal di 6.488 dan kondisi Stochastic RSI yang sudah panas membuat pekan depan menjadi momen yang lebih memerlukan selektivitas dibanding agresivitas.