LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Inflasi AS Terus Menantang Konsensus Wall Street

Wall Street telah memproyeksikan inflasi Amerika Serikat kembali ke sekitar 2% selama 64 bulan berturut-turut. Sepanjang periode tersebut, realisasi core Personal Consumption Expenditures (PCE) selalu meleset dari lintasan yang diperkirakan. Polanya konsisten: inflasi diproyeksikan mendekati target The Fed dalam enam kuartal berikutnya, tetapi target itu terus bergeser ke depan.

Survei terhadap sekitar 70 ekonom kembali membentuk skenario serupa. Inflasi diperkirakan mereda pada semester kedua tahun ini dan turun lebih lanjut tahun depan. Proyeksi tersebut sejalan dengan pandangan New York Fed President John Williams, tetapi rekam jejak lima tahun terakhir memperlihatkan bahwa mean reversion menuju 2% tidak berlangsung semulus model konsensus.

Sebelum pandemi, forecast error cenderung bergerak ke arah sebaliknya. Ekonom kerap memperkirakan inflasi naik menuju target, sementara realisasinya tertahan di bawah 2%. Setelah pandemi, lonjakan core PCE hingga lebih dari 5% mengubah rezim inflasi. Konsensus berulang kali memperkirakan penurunan cepat, tetapi tekanan harga bertahan di atas target. Bahkan setelah turun ke kisaran 2,5%-3%, core inflation kembali menunjukkan kecenderungan meningkat dalam sekitar 18 bulan terakhir.

Persistensi ini penting bagi pasar karena ekspektasi suku bunga, valuasi saham, dan yield obligasi bergantung pada asumsi disinflasi. Jika core PCE gagal bergerak menuju 2%, The Fed memiliki ruang lebih sempit untuk menjalankan rate cuts. Higher for longer akan menjaga real yields tetap tinggi, membatasi ekspansi valuation multiple, dan meningkatkan refinancing cost bagi perusahaan dengan leverage besar.

Di pasar saham, sektor long-duration seperti technology dan growth stocks paling sensitif terhadap perubahan discount rate. Sebaliknya, bank dapat memperoleh dukungan dari net interest margin selama kurva yield tidak semakin terbalik, sementara energy dan commodity-linked equities relatif lebih defensif ketika tekanan harga berasal dari supply constraints. Obligasi tenor panjang juga menghadapi duration risk jika pasar kembali menghapus ekspektasi rate cuts.

Forecast terbaru baru layak mendapat bobot lebih besar jika didukung perubahan fundamental: moderasi wage growth, pelemahan inflasi jasa dan housing, produktivitas yang lebih tinggi, serta demand yang mendingin tanpa gangguan pasokan baru. Tanpa kombinasi tersebut, proyeksi 2% tetap lebih tepat diperlakukan sebagai base case yang belum terkonfirmasi, bukan kepastian untuk menentukan positioning portofolio.