LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

INTP Laba Melesat 31% YoY, Valuasi Masih Murah?

Net profit Indocement (INTP) di 2Q26 datang lebih kuat dari ekspektasi — Rp374 miliar, naik 73.5% qoq dan 31.8% yoy. Akumulasi 1H26 mencapai Rp590 miliar, tumbuh 19.2% yoy, setara 36% dari estimasi full-year. Angka ini jauh di atas pola seasonality lima tahun terakhir yang biasanya hanya menyumbang 26% dari FY total di paruh pertama.

Revenue 2Q26 naik 19.8% qoq dan 13.6% yoy ke Rp4.6 triliun. Pendorong utamanya adalah volume domestik dan ekspor yang lebih kuat dari perkiraan, ditambah blended ASP yang merangkak naik sekitar 4% qoq ke Rp900 ribu/ton setelah serangkaian kenaikan harga bertahap pada segmen bagged cement selama April–Juni 2026. Di luar operasional, kontribusi dari JV shipping dan mortar, serta net finance income yang lebih tinggi, turut mendongkrak bottom-line.

Yang lebih menarik adalah perubahan tone dari manajemen soal demand outlook. Sebelumnya mereka hanya memproyeksikan pertumbuhan pasar domestik 1% untuk FY26 — sekarang dinaikkan menjadi 4–5% yoy. Ini bukan revisi kecil. Manajemen menyebut permintaan grassroots tetap resilient, ditopang harga komoditas yang tinggi (CPO dan batu bara) serta proyek-proyek pemerintah seperti program Koperasi Merah Putih dan makan bergizi gratis. Demand kuat ini diperkirakan berlanjut setidaknya hingga Agustus 2026.

Soal cost, ada tekanan yang perlu dicermati. Konflik Iran berdampak lagged pada harga batu bara, bunker oil, packaging, dan komponen FX. INTP berencana melakukan selective price increase di 2H26 untuk mengkompensasi tekanan ini. Meski begitu, mereka tetap berkomitmen menjaga EBITDA margin di atas 20% untuk FY26, sementara market share dipertahankan di kisaran 28–29% (1H26: 28.1%).

Dari sisi forecast revisi, volume sales FY26–28F diangkat 4.9–5.6%, dengan asumsi blended ASP sedikit diturunkan 1.1–2.1% karena porsi penjualan di luar Jawa yang lebih besar. Cash cost per ton juga dipangkas 1.4–2.0%, mencerminkan efisiensi yang lebih baik dari ekspektasi di sisi raw material dan tenaga kerja. Net effect-nya: EBITDA forecast FY26–28F naik 5.0–8.2%, dan net profit forecast naik 5.8–14.0%.

Dari angle valuation, INTP saat ini diperdagangkan di 2.9x 12-month forward EV/EBITDA — sekitar 1.8 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun. Dengan target price DCF-based di Rp6.800 (WACC 12%, terminal growth 0.5%), implied upside dari harga saat ini Rp4.800 sekitar 41.7%. Dividend yield FY27–28F diproyeksikan di rentang 4.8–6.3%, yang cukup menarik untuk investor income-oriented.

Downside risks yang perlu diperhatikan: lonjakan harga energi yang lebih agresif dari perkiraan, dan enforcement regulasi ODOL (Over Dimension Over Loading) yang bisa mengganggu distribusi semen. Sementara potential re-rating catalyst bisa datang dari penurunan suplai domestik atau akselerasi demand yang lebih cepat dari proyeksi.

Net gearing INTP sudah negatif dan makin dalam — dari -13.5% di FY25 menuju -16.7% di FY26F dan -26.2% di FY28F. Balance sheet yang bersih ini memberikan fleksibilitas untuk capex atau dividen yang lebih agresif ke depan.