LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

PMI Global Menguat, Tapi Saham Masih Layak Beli?

ISM Manufacturing AS untuk Juli 2026 naik 2.3 poin ke 55.6 — angka tertinggi dalam empat tahun, dan ini bukan sekadar headline yang bagus di permukaan. Ini adalah ekspansi bulan ketujuh berturut-turut, dengan 15 dari 16 industri melaporkan pertumbuhan. Yang lebih penting dari angka headline-nya adalah komposisi sub-indeksnya.

Production melonjak 6.3 poin ke 58.5, level tertinggi sejak November 2021. Backlogs naik 4.5 poin ke 55.0 — artinya demand sedang outpace capacity, bukan sekadar restocking. Dan yang paling signifikan: employment index masuk zona ekspansi di 52.8, untuk pertama kalinya dalam 33 bulan. Manufaktur tidak menambah headcount karena satu bulan kebetulan bagus. Ini sinyal yang serius.

Customers' inventories masih di 40.7 — dikategorikan "too low" — yang secara historis menjadi leading indicator positif untuk produksi ke depan.

Secara global, manufacturing PMI berada di 52.1, bulan kedelapan berturut-turut di atas 50. Japan menjadi standout dengan output tumbuh tercepat dalam lebih dari 12 tahun, didorong AI-related demand. Eurozone composite naik ke 52.0 dari 50.0, dengan Germany kembali ke zona ekspansi dan tekanan input cost di titik terendah sejak Februari. Taiwan (55.1), Korea (53.1), Vietnam (52.9) — jalur ekspor global sedang terbuka lebar.

China adalah pengecualian yang mencolok. NBS manufacturing PMI turun ke 49.2, kontraksi bulan kedua berturut-turut. Services juga di 49.0. Eksportir swasta China masih ikut dalam siklus global, tapi basis industri domestiknya tidak. Bagi investor yang ingin bermain EM goods cycle, ASEAN, Mexico, dan North Asian exporters adalah rute yang lebih bersih.

Pertanyaan yang lebih menarik: apakah good news masih good news untuk equities di level ISM ini?

Berdasarkan data historis S&P 500 sejak 1950, ketika ISM berada di decile ketujuh (sekitar 55-57), average forward 6-month return adalah 4.7% — hampir identik dengan unconditional average 4.6%. Artinya, ISM di level ini secara statistik tidak memberikan informasi tambahan tentang return ke depan. Argumen "good news is bad news" baru relevan di decile 8-10, bukan di sini. Jadi narasi bahwa ISM yang terlalu kuat akan menekan saham masih prematur.

Tapi risikonya nyata dan tidak bisa diabaikan. ISM Prices Paid di 71.1, bulan keenam berturut-turut di atas 70. Fed menahan rate di pertemuan 29 Juli dengan tiga dissenting vote untuk hike. Swaps market pricing ~60% probabilitas kenaikan September, dan December sudah fully priced. Yield US Treasury 30-tahun ada di level tertinggi sejak 2007.

ISM yang kuat di skenario ini tidak hanya berarti earnings lebih baik — tapi juga discount rate yang lebih tinggi. Itulah inti dari bearish case yang legitimate.

Namun equities adalah nominal claims. Real GDP tumbuh 2.1% YoY, tapi deflator naik 4.3%, sehingga nominal GDP mencapai 6.4%. Dan itu yang masuk ke laporan keuangan perusahaan: S&P 500 revenue growth 14.1% YoY (tercepat sejak Q2 2022), blended earnings growth 47.4% (bahkan 28.8% excluding Alphabet dan Amazon), dan net margin 16.7% versus 12.9% setahun lalu. Margin melebar di tengah input cost yang naik selama 22 bulan berturut-turut — itu adalah pricing power test yang sedang dilewati.

Dengan forward P/E di sekitar 21 versus rata-rata 10 tahun di 18.9, ruang untuk multiple expansion sudah terbatas. Core PCE di 3.4% annualized masih di zona di mana earnings channel mendominasi atas efek inflasi ke multiple — tapi headline inflation di 5.1% sudah melampaui zona nyaman itu. Posisi saat ini lebih tepat dibaca sebagai alasan untuk tetap overweight equities versus bonds, bukan sebagai sinyal untuk agresif membeli di valuasi saat ini.