Pertanyaan investasi terbesar di 2026 bukan soal apakah pertumbuhan akan kolaps — tapi apakah investor siap beradaptasi dengan dunia di mana nominal GDP growth dan suku bunga secara struktural lebih tinggi dari dekade sebelumnya. Inflasi kemungkinan tetap di atas target, tapi real growth juga tetap solid, didukung labor market yang kuat, productivity gains, dan siklus capital investment yang terus mengembang.
Dalam lingkungan seperti ini, ekuitas tetap menjadi primary beneficiary. Nominal GDP growth yang lebih tinggi langsung mendukung revenue expansion, earnings growth, dan cash flow generation. Ditambah lagi dengan fiscal stimulus, deregulasi, dan adopsi AI yang terus berlanjut — backdrop untuk ekuitas, khususnya di AS, tetap konstruktif.
Di sisi earnings, yang menarik adalah broadening yang terjadi di 2026. Kalau di 2025 positive EPS revision hampir sepenuhnya dikuasai sektor tech, di 2026 cyclicals sudah ikut naik. Manufacturing PMI AS yang selama dua tahun lebih terjebak di bawah 50 akhirnya konsisten masuk expansion territory dalam enam bulan terakhir — ini sinyal bahwa pemulihan ekonomi mulai lebih merata, bukan hanya ditopang tech giants.
Dari sisi valuation, forward P/E S&P 500 di sekitar 20x memang terlihat tinggi secara absolut, tapi tidak ekstrem kalau dibandingkan rata-rata 5–10 tahun terakhir. Yang lebih menarik: AI-related equities justru sudah derate signifikan dalam tiga tahun terakhir meski earnings-nya melonjak — market belum mau fully extrapolate profit growth yang ada. Ini membuka ruang bagi investor yang percaya pada durabilitas CapEx cycle AI.
Soal AI, angkanya cukup mengejutkan: estimated hyperscaler CapEx untuk 2026 sudah direvisi naik 36% year-to-date. Shift dari chat-based AI ke agentic AI secara struktural meningkatkan compute demand — agent bisa berjalan terus-menerus, bukan episodik seperti chatbot biasa. Ini mendukung thesis overweight pada AI picks-and-shovels: compute, connectivity, dan cybersecurity.
Untuk SMID caps AS, ada thesis yang cukup kuat: valuasi relatif terhadap large caps berada di level sangat murah secara historis, exposure ke domestik lebih tinggi, dan komposisi industrials yang lebih besar membuat mereka lebih sensitif terhadap broadening recovery. Earnings SMID terlihat bottoming relatif terhadap large caps ketika tech exposure dikontrol.
Di sisi fixed income, posisinya lebih defensif. Duration underweight menjadi bias utama — UST 10-year sudah rally kembali ke sekitar 4,40% setelah sempat menyentuh 4,65% di pertengahan Mei, tapi risiko yield masih condong ke atas mengingat inflasi yang persisten dan labor market yang justru mulai firming. Term premia secara global juga terus naik, konsisten dengan environment fiscal-driven growth dan above-target inflation.
Investment grade credit hampir tidak menarik — spread sudah di near all-time tights, convexity buruk, risk/reward asimetris ke arah yang salah. Yang lebih disukai: MBS/ABS sebagai highest conviction overweight di fixed income, Bank Loans karena carry tinggi dan constructive growth backdrop, serta EM Hard Currency yang masih menawarkan relative carry yang wajar setelah disesuaikan dengan rating differential.
Untuk EM secara keseluruhan, divergensi adalah kata kuncinya. Taiwan dan Korea mendapat upgrade earnings yang kuat dari AI semiconductor cycle. Brazil menarik dari sisi local bonds — suku bunga di atas 14% dengan inflasi mendekati target 3%, dan siklus pemangkasan yang diperkirakan akan accelerate di 2H26. Sebaliknya, China dan India menjadi sumber downside risk: China pivot ke industrial policy "national security first" meninggalkan konsumsi domestik dan properti, sementara India masih navigasi cyclical soft patch.
Europe secara keseluruhan tetap underweight. Krisis energi akibat konflik di Timur Tengah — meski U.S.-Iran MOU sudah ditandatangani — meninggalkan scarring yang tidak akan hilang dalam satu kuartal. TTF gas prices diperkirakan tetap elevated sepanjang 2026. Yang menarik di dalam Europe: banks (EPS sudah kembali ke level pre-GFC dan berpotensi tumbuh lebih jauh) dan utilities/grid equipment providers yang diuntungkan dari agenda energy security Eropa — investasi grid Eropa diproyeksikan naik hampir 50% dari level 2024 ke level yang dibutuhkan untuk net zero.
Satu variabel makro yang perlu diperhatikan: yen Jepang mendekati level terlemah sejak 1986 terhadap USD. BoJ memang sudah hiking, tapi kecepatan yang terlalu lambat membuat yen tidak banyak terbantu, apalagi rate hike expectations di negara lain naik lebih cepat pasca konflik Iran. Ini ironis bagi Japanese bank thesis yang secara struktural menarik — earnings mereka sudah jauh outperform broader market sejak BoJ keluar dari ZIRP — tapi forex impact tetap menjadi risiko yang perlu dimonitor untuk investor luar.