LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

SCMA 2Q26: Laba Naik 37% YoY, Tapi Ada Catatan

Surya Citra Media ($SCMA) membukukan net profit IDR229 miliar di 2Q26 — naik 37% YoY, tapi turun 26% secara QoQ. Angka ini membawa akumulasi 1H26 ke level 47% dari estimasi full-year, yang artinya secara teknis inline dengan ekspektasi. Tidak ada kejutan besar, tapi ada beberapa hal yang layak dicermati lebih dalam.

Revenue tumbuh 6% YoY, dengan driver utama dari segmen marketing services & enabler yang melonjak 36% YoY, serta digital & OOH yang naik 5% YoY. Segmen TV advertising — yang secara historis masih jadi tulang punggung — relatif flat dengan penurunan tipis 1% YoY. Ini bukan angka yang mengkhawatirkan, tapi juga bukan sinyal pemulihan yang kuat. Industri TV memang sedang dalam fase stagnasi struktural di tengah migrasi audience ke platform digital.

Yang lebih menarik diperhatikan adalah pergerakan margin. Gross margin turun 520bps QoQ ke level 40,2%, dan operating margin ikut terkoreksi 470bps QoQ. Ini bukan hal yang mengejutkan — 1Q26 memang exceptionally strong, sebagian karena seasonal front-loading dari belanja iklan awal tahun. Normalisasi di 2Q adalah pola yang cukup konsisten di industri ini. Tapi kompresi sebesar itu dalam satu kuartal tetap perlu dicatat, terutama kalau ingin membaca trajectory margin di paruh kedua tahun ini.

Satu titik positif yang cukup meaningful: segmen Digital & OOH mencatatkan EBITDA IDR43 miliar, naik secara kuartalan. Ini penting karena segmen ini selama beberapa tahun terakhir masih dalam fase investasi dan sering jadi sumber drag terhadap profitabilitas konsolidasi. Kalau tren ini berlanjut, kontribusinya terhadap bottom-line SCMA bisa mulai terasa lebih material di 2H26.

Dari sisi harga saham, SCMA sudah underperform cukup dalam — YTD turun hampir 40% secara absolut, dan relatif terhadap JCI masih minus 13%. Range 52 minggu antara IDR165–472 mencerminkan betapa volatile-nya persepsi pasar terhadap emiten media ini. Market cap saat ini sekitar IDR15 triliun atau setara USD844 juta, dengan free float yang sangat tipis di kisaran 10,6% — ini bisa jadi faktor likuiditas yang membatasi partisipasi investor institusional besar.

Secara keseluruhan, SCMA bukan cerita yang rusak, tapi juga belum ada katalis besar yang akan mendorong re-rating signifikan dalam waktu dekat. Advertising demand masih resilient, digital business mulai menunjukkan perbaikan, tapi tekanan margin dan stagnasi TV tetap jadi overhang. 2H26 akan jadi ujian sesungguhnya — apakah momentum digital bisa mengompensasi normalisasi di segmen tradisional.