Bumi Resources Minerals (BRMS) sedang menghadapi fase realitas baru. Setelah performa semester pertama yang di bawah ekspektasi, target price saham ini perlu disesuaikan secara konservatif menjadi IDR 760 dari sebelumnya IDR 1.100. Meski ada pemangkasan proyeksi laba bersih untuk FY26F sebesar 65%, tesis investasi jangka panjangnya tidak berubah: ini adalah cerita tentang transisi operasional yang tertunda, bukan kerusakan aset fundamental.
Kinerja 2Q26 kemarin memang terbilang mengecewakan. Top-line merosot 62,1% QoQ menjadi USD 26 juta, memicu net loss sebesar USD 5 juta akibat tekanan operating leverage. Namun, jika dibedah lebih dalam, penurunan ini bukan disebabkan oleh masalah utilisasi pabrik, melainkan penurunan head grade emas menjadi 0,90 g/t di area River Reef. Selain itu, ada masalah timing penjualan; perusahaan hanya menjual sekitar 70% dari total produksi emasnya, menyisakan inventory build sekitar 2.700 oz. Jika pendapatan tertunda senilai USD 13 juta ini dimasukkan, posisi bottom-line sebenarnya mendekati breakeven.
Untuk paruh kedua tahun ini, target produksi dari manajemen sebesar 56.200 oz terasa terlalu agresif. Target tersebut membutuhkan head grade sekitar 2,4 g/t dari open pit Poboya—level yang sulit dicapai sebelum proyek underground mine beroperasi. Oleh karena itu, proyeksi volume produksi emas yang lebih realistis berada di kisaran 29.000 oz untuk 2H26.
Kunci pertumbuhan BRMS sesungguhnya baru akan terlihat pada paruh kedua 2027 saat tambang bawah tanah (underground mine) mulai beroperasi. Proyek ini diproyeksikan mendongkrak blended grade menjadi 1,53 g/t di FY27 dan 1,93 g/t di FY28, yang akan memicu lonjakan produksi emas masing-masing sebesar 54% dan 34% YoY. Skala ekonomi ini berpotensi menekan cash cost hingga 30% menjadi USD 1.730/oz pada FY28, memperlebar cash margin secara signifikan di tengah tren harga emas global yang kuat.
Dengan likuiditas yang terjaga melalui fasilitas sindikasi USD 625 juta hingga 2031 serta kontrak offtake dengan Aneka Tambang (ANTM) yang meminimalisir risiko penjualan, risiko finansial jangka pendek tergolong minim. BRMS saat ini ditransaksikan atas ekspektasi pertumbuhan kapasitas jangka menengah, bukan earnings jangka pendek. Penurunan harga saat ini justru membuka entry point menarik bagi investor dengan horizon investasi multi-years.