LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Timah (TINS) Terlalu Bagus untuk Ditinggalkan

Saham TINS sudah naik 280% dalam 12 bulan terakhir, sementara JCI justru turun 15,8%. Divergensi yang ekstrem — dan itu bukan sekadar efek gorengan, melainkan refleksi dari fundamental yang berubah drastis dalam setahun terakhir.

Laporan keuangan 2Q26 menunjukkan gambaran yang menarik. Revenue emiten timah ini tercatat IDR 4,96 triliun, turun 9,3% QoQ tapi melonjak 133,5% YoY. Penurunan kuartalan terjadi karena sales volume turun 17,2% QoQ ke 4.975 ton setelah 1Q26 yang sangat kuat. Tapi ASP tetap tinggi di sekitar USD 50.480 per ton (+2,6% QoQ), dan itu cukup untuk mengkompensasi volume yang lebih lemah.

Yang lebih penting adalah bottom-line. Net profit 2Q26 mencapai IDR 1,21 triliun, tumbuh 562,6% YoY, dan 6M26 net profit sudah di IDR 2,72 triliun — lebih dari 8 kali lipat dari periode yang sama tahun lalu. Gross margin juga ekspansif di 39,3%, naik 17,5pp YoY. Ini bukan sekadar siklus komoditas; ini soal earning power yang benar-benar berubah levelnya.

Lingkungan harga timah memang masih mendukung. LME inventory terus turun: di Asia dari 8,3kt ke 5,6kt, dan secara global dari 9,0kt ke 6,0kt. Supply growth FY26 diperkirakan hanya sekitar 3,0%, sementara demand growth lebih dari 3,5%. Global tin market sudah mencatat defisit 5,7kt di 1H26, setara 3,3% dari demand, melanjutkan defisit FY25 yang mencapai 18kt. Artinya, tekanan pasar masih akan berlanjut dan harga timah kemungkinan besar bertahan di atas USD 50k per ton sampai akhir tahun.

Yang membuat TINS menarik bukan cuma harga timah, tapi juga cost structure-nya. Cash cost masih di bawah USD 25k per ton, ditopang oleh harga solar IDR 13–17k per liter dan raw material cost di bawah 40% dari revenue. Dengan asumsi harga timah USD 50k per ton, cash margin TINS sekitar 50%. Belum lagi penundaan kenaikan royalti dari 10% ke 20% yang mengeliminasi potensi headwind IDR 1,5 triliun pada 2026. Net margin di atas 20%? Sepertinya bukan mimpi — bisa jadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Forecast untuk 2026F pun ikut naik signifikan. Revenue diproyeksikan IDR 21,9 triliun (+89,8% YoY), dan net profit IDR 4,9 triliun (+278,8% YoY). Catatan penting: 2027F net profit juga dipatok di IDR 4,9 triliun — flat. Ini mencerminkan asumsi bahwa royalti bakal naik tahun depan. Kalau pemerintah menunda lagi, atau harga timah tetap tinggi, forecast tersebut sebenarnya konservatif.

Pada target harga IDR 5.500, saham TINS yang diperdagangkan di IDR 3.820 menawarkan upside 44%, dengan P/E 8,2x di FY27F. Untuk emiten dengan margin setinggi ini, valuasi tersebut masih wajar. Tapi perlu diingat: saham ini sudah rally 280% dalam setahun. Sebagian kabar baik sudah ter-pricing. Adapun risiko utamanya tetap di sisi regulasi — kenaikan royalti lebih lanjut, perubahan aturan pertambangan, atau kebijakan ekspor — plus risiko operasional seperti recovery volume yang lambat atau kenaikan cash cost.

The bottom line: TINS sedang berada di sweet spot — harga tinggi, cost rendah, dan ekspektasi yang terus naik. Pertanyaannya bukan apakah earning power saat ini nyata (jelas nyata), melainkan berapa lama kondisi ini bertahan sebelum pemerintah ikut mengambil porsi lebih besar. Untuk sekarang, jawabannya masih menguntungkan TINS. Tapi ini tipe saham yang harus dievaluasi ulang setiap kuartal, karena beda antara tahun yang bagus dan tahun yang luar biasa di sini hanyalah satu keputusan kebijakan.