Angka 804% bukan typo. Net profit PT Timah (TINS) benar-benar tumbuh 804.7% YoY di semester pertama 2026, dari Rp300 miliar menjadi Rp2.71 triliun. Ini bukan sekadar efek base yang rendah — strukturnya memang jauh lebih solid dari sebelumnya.
Revenue naik 146.9% YoY menjadi Rp10.42 triliun, didorong oleh dua faktor sekaligus: volume penjualan logam timah yang melonjak 85.1% YoY ke 10,984 metrik ton, plus average selling price yang naik 51.7% YoY ke level US$49,794/metrik ton. Kombinasi volume dan harga naik bersamaan ini yang membuat profitabilitas meledak — gross profit margin melompat dari 20% ke 39%, operating profit margin dari 9% ke 33.2%, dan net profit margin dari 7.1% ke 26.1%.
Di sisi operasional, produksi bijih timah tumbuh 74.8% YoY menjadi 12,232 ton Sn, sementara produksi logam timah naik 58.2% YoY ke 10,865 metrik ton. Peningkatan ini datang dari optimalisasi produktivitas, penambahan unit operasi, dan yang cukup signifikan — penguatan pengamanan WIUP yang dibantu Satgas pemerintah pusat. Artinya ada elemen non-komersial yang turut mendukung angka produksi ini, dan perlu dicermati keberlanjutannya.
Satu hal yang perlu digarisbawahi: secara QoQ, ada perlambatan. Revenue turun 9.3% QoQ dan net profit turun 19.1% QoQ di 2Q26 dibanding 1Q26. Penyebabnya adalah penurunan volume produksi dan penjualan secara kuartalan. Ini bukan alarm besar, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa momentum 1Q26 yang sangat kuat belum tentu bisa dipertahankan di semester kedua.
Dari sisi demand global, timah masih punya cerita yang menarik. Segmen solder mendominasi sekitar 50% konsumsi global, dan permintaan dari sektor elektronik, semikonduktor, kendaraan listrik, hingga data center berbasis AI terus tumbuh. Harga LME tin cash settlement rata-rata di US$50,319/metrik ton selama 6M26 — naik 56.68% YoY. Meski stok di gudang LME naik 58.36% YTD ke 8,575 ton, harga tetap solid karena demand struktural masih kuat.
Untuk full year 2026, revenue diproyeksikan mencapai Rp22.09 triliun (growth 91.2% YoY) dengan net profit Rp4.09 triliun. Run rate 6M26 sudah mencapai 47.2% dari target revenue dan 66.5% dari target net profit — artinya semester kedua hanya perlu perform moderat untuk mencapai target.
Valuasi saat ini cukup menarik. Dengan harga Rp3,900 dan target price Rp4,950, potential upside sekitar 26.9%. Forward P/E 2026F di kisaran 9x dan P/BV di 3.4x — jauh lebih murah dibanding level historisnya. ROE diproyeksikan melonjak ke 37.7% di FY26F dari 15.6% di FY25, dan dividend yield sekitar 4.4% dengan asumsi payout ratio 40%.
Risiko yang perlu diperhatikan tetap ada: fluktuasi harga timah global adalah variabel paling dominan, lalu ada risiko regulasi dan royalti, keterlambatan persetujuan RKAB yang bisa menghambat produksi, serta potensi kenaikan cash cost. Perlambatan QoQ di 2Q26 juga perlu dimonitor — apakah ini seasonal atau sinyal awal tekanan yang lebih dalam.