LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Triple Breadth: Sinyal Awal Siklus atau Jebakan?

Yang paling informatif dari kondisi pasar saat ini bukan levelnya — tapi participation rate-nya. Ada tiga ukuran breadth yang melebar secara bersamaan: berapa banyak saham yang naik, berapa banyak perusahaan yang tumbuh profitnya, dan berapa banyak ekonomi yang berekspansi. Ketiga sinyal ini muncul serentak, dan itulah yang membuat analisisnya menarik.

Dari sisi market breadth, sekitar 69% konstituen S&P 500 diperdagangkan di atas 200-day moving average, dan 64% di atas 50-day moving average — yang sempat menyentuh 70% untuk pertama kalinya sejak Januari. Small- dan mid-cap justru leading: sekitar 73% anggota S&P SmallCap 600 berada dalam long-term uptrend. Cumulative advance-decline line mencetak all-time high di bulan Juli, dan Russell 2000 sudah naik sekitar 20% year-to-date, mengalahkan S&P 500. Secara global, MSCI ACWI berada di sekitar 1.130, mendekati all-time high 1.136,59, dengan Q2 2026 menjadi kuartal terbaik bagi global equities sejak akhir 2020.

Tapi ada dua caveat yang tidak boleh diabaikan. Pertama, sebagian dari broadening ini sebenarnya adalah rotation — mega-cap tech yang melemah secara mekanis mendongkrak performa relatif equal-weight dan small-cap. Median stock naik, tapi bukan berarti semuanya naik bersama. Kedua, McClellan Oscillator sudah dua minggu di bawah nol — advance-decline line memang di level tinggi, tapi momentum-nya melambat. Breadth melebar, tapi tidak merata.

Dari sisi earnings breadth, Q2 2026 mencetak blended earnings growth 47,4% — tertinggi sejak Q2 2021 — dengan revenue growth 14,1% dan net profit margin 16,7%, jauh di atas rata-rata lima tahun 12,4%. Yang lebih penting: semua 11 sektor melaporkan revenue growth year-on-year, 10 dari 11 melaporkan earnings growth, dan 80% perusahaan mengalahkan revenue estimates versus five-year average 70%. Ini beat rate pada top-line, bukan sekadar cost cutting.

Namun ada kualifikasi jujur yang perlu disampaikan: lonjakan headline dari 28,8% ke 47,4% didominasi oleh dua sektor — Communication Services (revisi dari 7,3% ke 109,8%) dan Consumer Discretionary (dari 5,0% ke 90,7%) — yang keduanya digerakkan besar-besaran oleh Alphabet dan Amazon. Exclude keduanya, blended growth-nya 28,8%. Angka agregat terkonsentrasi, tapi breadth-nya tidak — jumlah sektor dengan revisi positif tetap luas.

Di sisi macro breadth, ISM Manufacturing Juli mengekspansi di hampir semua komponen: production 58,5 (tertinggi sejak November 2021), new orders 56,7, backlogs 55,0, dan employment 52,8 — pertama kalinya dalam 33 bulan berada di zona ekspansi. 15 dari 16 industri manufaktur melaporkan pertumbuhan. Secara global, 88% ekonomi yang dipantau berada dalam manufacturing expansion, naik dari 59% enam bulan lalu. Services PMI juga ikut pulih: 77% negara kini di atas 50, naik dari 53% di musim semi.

Satu-satunya pengecualian signifikan adalah China, di mana official PMI turun ke 49,2 untuk bulan kedua berturut-turut. Ini alasan mengapa exposure ke emerging market goods cycle lebih tepat diekspresikan melalui ASEAN, Mexico, dan North Asian exporters — bukan melalui domestic demand China.

Ketiga breadth ini bukan tiga konfirmasi independen atas fakta yang sama. Mereka adalah sebuah urutan: PMI breadth leads, earnings breadth confirms, market breadth discounts. Ketika ketiganya melebar bersamaan, chain dari makro ke earnings ke pasar masih intact — dan itu adalah karakteristik early-to-mid cycle, bukan akhir siklus. Late-cycle justru kebalikannya: index di high, tapi semakin sedikit saham yang berpartisipasi, dan profit growth terkonsentrasi di segelintir nama.

Implikasi positioning-nya cukup jelas: owning the median stock, bukan hanya index. Cyclical tilt — industrials, capital goods, materials, energy — relevan di samping selective exposure ke technology. Equities tetap lebih menarik dari bonds, dengan duration pendek. Gold dan hedge funds mengambil fungsi hedging, bukan government bonds, karena dalam rezim nominal growth tinggi ini duration tidak mendiversifikasi equity risk secara efektif.

Yang perlu diawasi sebagai falsifikasi: jika PMI breadth mulai berbalik (terutama bila kontraksi China menjalar ke ASEAN dan North Asia), jika jumlah sektor dengan upward revision turun di bawah separuh, atau jika market breadth mulai diverge dari index — itulah urutan di mana chain ini bisa patah. Sampai saat ini, tidak satu pun sinyal tersebut telah terjadi.