LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

16 Saham Data Center IDX: Mana yang Nyata?

Ada satu kesalahpahaman besar yang perlu diluruskan dulu: Indonesia tidak perlu menawarkan tarif listrik termurah untuk bersaing sebagai lokasi data center. Yang dibutuhkan hyperscaler — Google, Microsoft, Amazon, dan sejenisnya — adalah reliable 24/7 power supply yang bisa di-scale dengan cepat. Murah itu bonus, tapi bukan penentu utama.

S&P Global memproyeksikan ASEAN akan butuh 16.4 GW kapasitas daya data center pada 2035. Indonesia diperkirakan mengambil sekitar 14% dari total itu, atau sekitar 2.3 GW — jauh di bawah Malaysia yang 55%, tapi angka ini tetap besar. Dua kawasan kunci: Jabodetabek–Cibitung–Cikarang–Karawang untuk domestic demand, dan Batam–Riau sebagai overflow dari Singapura.

Komitmen nyata sudah mulai muncul. BDx Data Centers sudah mengamankan power supply commitment sebesar 1.2 GW untuk proyek-proyeknya di Jatiluhur, Cilandak, dan Suryacipta. DayOne — operator asal Singapura, dulu dikenal sebagai GDS International — menandatangani PPA sebesar 511 MVA (~450 MW) untuk kampus Kabil Industrial Tech Park di Batam. Keduanya bukan emiten IDX, tapi keberadaan mereka langsung berdampak ke power supplier, industrial estate, dan infrastructure provider yang listed.

Dari 16 emiten IDX yang relevan dengan tema ini, penting untuk tidak menyamaratakan semuanya. Revenue path mereka berbeda, dan level of certainty-nya juga jauh berbeda.

Grup Direct — yang sudah punya revenue konkret:

  • DCII: Operator paling direct. Kapasitas shell 132 MW tersebar di 9 data center (Cibitung, Karawang, Jakarta, Surabaya). Revenue dari capacity leasing. Watch: occupancy contracted capacity dan capex returns.
  • DSSA: Melalui SM+, mengoperasikan 25 data center dengan hampir 40 MW kapasitas. Proyek SMX01 di Jakarta dirancang 27 MW, fase pertama 6 MW ditarget Q4-2026. Risikonya: data center contribution bisa tenggelam di balik segmen mining dan energi.
  • TLKM: NeutraDC (TDE) membukukan revenue Rp867 miliar di 1H26, naik 11% yoy. Effective capacity ~49.9 MW, occupancy Cikarang dan Singapura sudah 96% dan 90%. Batam 6 MW pertama ditarget 2H26. Jangan campur aduk designed capacity dengan operating capacity.
  • ISAT: Paling dekat ke AI computing melalui Zankore — platform cloud AI yang dikembangkan bersama Ooredoo, NVIDIA, dan Nokia. Target 1 GW, ~200 MW direncanakan online 1H27. Tapi ini belum beroperasi. Ooredoo mengungkap stake 49% dan komitmen ~US$800 juta. Ownership stake ISAT dan profit share-nya belum clear.
  • POWR: Data center sudah menyumbang 12% dari total energy sold di 1H26 — angka yang sudah meaningful. POWR juga menyuplai kampus Princeton Digital Group 30 MW di Cibitung. Revenue bukan dari capacity leasing, tapi dari electricity sales.
  • INET: Bermain di connectivity — bandwidth, IP transit, inter-data-center interconnection. SIDI JKT01 sudah beroperasi sejak Agustus 2026 dengan kontrak IP transit 10 tahun, 10.000 Gbps, terikat ke jaringan RISING-8 (Singapura–Batam–Jakarta). Tapi economics of scale belum fully disclosed.

Grup Enabler — industrial estates:

DMAS, SSIA, KIJA, dan BEST semuanya bisa earn revenue dari land sales dan utility services. DMAS paling kuat track record-nya — Q1-2026 revenue Rp1.05 triliun, lebih dari 90% dari industrial land sales dengan data center sebagai dominant buyer. SSIA menjual ~4.9 ha di Suryacipta ke BDx untuk proyek hingga 300 MW. KIJA mencatat penjualan lahan 4 ha ke Datacomm di 2025. BEST menjadi host kampus DCI 8.5 ha di MM2100, ~75 MW operating.

Satu hal yang perlu diingat: kapasitas MW itu milik operator data center, bukan milik emiten industrial estate. Revenue estate datang dari land price per meter dan utility fees — bukan dari occupancy server rack.

Grup Awaiting Completion dan Early-Stage:

MGLV sedang dalam proses akuisisi NAC/NGC — sudah disetujui pemegang saham, tapi deal belum closed. NAC sudah operate 6 MW dan membukukan net profit Rp9.49 miliar hingga Juni 2026, tapi angka itu belum masuk ke laporan keuangan MGLV. Rights issue hingga 285.7 juta saham masih perlu dieksekusi.

PGEO menarik dari sisi geothermal — stable, low-carbon, 24/7, cocok untuk data center. Tapi saat ini masih di tahap studi bersama IDPRO dan Universitas Indonesia. Belum ada site, customer, atau PPA. PGAS punya jaringan gas ~273 km di Batam, tapi belum ada dedicated contract dengan operator data center. MEDC punya MoU dengan NeutraDC Nxera Batam untuk renewable energy supply — tapi MoU bukan PPA. TOWR punya 36.900 tower dan 182.600 km fiber, tapi belum ada named data center contract. MTEL bermain di edge computing potential, tapi belum ada kontrak yang material ke revenue.

Bottom line: jangan biarkan narasi data center yang besar membuat valuasi saham yang masih di tahap studi atau MoU terlihat justified. Yang perlu diprioritaskan adalah contracted capacity, operating occupancy, recurring revenue, dan balance sheet yang cukup untuk fund expansion. Sisanya masih cerita.