Archi Indonesia (ARCI) membukukan laba bersih 2Q26 sebesar US$50,5 juta — naik 105% secara tahunan dan 69% dari kuartal sebelumnya. Akumulasi laba bersih 1H26 menyentuh US$80,3 juta, tumbuh 130% yoy. Angka ini bukan sekadar lonjakan biasa; ini adalah konfirmasi bahwa trajectory operasional ARCI sedang dalam momentum yang solid.
Pendorong utamanya jelas: volume penjualan emas naik sekitar 39% qoq menjadi 32.000 ons di 2Q26. Bukan karena harga emas semata — meskipun harga emas global memang sedang dalam fase yang menguntungkan — tapi karena peningkatan aktual di sisi produksi, terutama dari tambang Araren dan Marawuwung.
Yang lebih menarik adalah outlook 3Q26. Volume penjualan diproyeksikan naik lagi ke kisaran 33.000–36.000 ons, seiring peningkatan produksi di dua lokasi tersebut. Kalau angka ini terealisasi, ada kemungkinan konsensus pasar akan merevisi estimasi full-year ke atas — dan itu biasanya jadi katalis pergerakan harga saham.
Di sisi kapasitas, ARCI sedang mengeksekusi ekspansi processing capacity dari 4 Mtpa menjadi 6 Mtpa — naik 50%. Konstruksi sudah dimulai di 1H26, dan kapasitas tambahan 2 juta ton per tahun ini dijadwalkan on-stream akhir 2027. Menariknya, kapasitas baru ini sebagian besar akan memproses material dari tailing, artinya incremental cash cost-nya sangat rendah. Estimasi tambahan produksi dari sini adalah 30.000–40.000 ons per tahun — bukan angka kecil untuk emiten dengan total produksi saat ini di kisaran 130.000-an ons.
Untuk full-year 2026, revenue diproyeksikan tumbuh 73,6% yoy menjadi US$699 juta, dengan net profit sekitar US$177 juta. Asumsi harga emas yang dipakai US$4.500/ons — relatif konservatif mengingat kondisi pasar emas saat ini. Net margin diperkirakan mendekati 48%, dan ROE di atas 41%. Dari sisi valuation, saham ini diperdagangkan di sekitar 11x PE 2026F dan 6,6x EV/EBITDA — jauh lebih murah dibanding rata-rata historis empat tahunnya.
Target harga fundamental ada di Rp2.200 berbasis 10x EV/EBITDA 2026F, sementara harga saham saat ini berada di Rp1.390. Upside-nya sekitar 58% — angka yang cukup besar untuk emiten dengan earnings momentum yang jelas dan balance sheet yang membaik. Net debt-to-equity turun dari 128% di 2025 menjadi proyeksi 77% di 2026, dan interest coverage sudah di level 7,6x.
Dari sisi teknikal, ARCI sudah rebound dan menyentuh level fibonacci 50% di Rp1.475 yang sekaligus jadi resistance. RSI di atas midpoint, MACD baru saja membentuk bullish crossover. Tapi karena harga sudah menyentuh level fibo 50%, pullback sementara adalah skenario yang wajar sebelum potensi lanjutan ke resistance berikutnya di Rp1.700. Entry point yang lebih optimal ada di kisaran Rp1.250 kalau terjadi koreksi.
Risiko yang perlu diperhatikan: real yield yang masih tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga bisa menekan harga emas dan mempersempit upside. Konsolidasi jangka pendek di harga saham juga tetap mungkin. Tapi dalam jangka menengah, kombinasi antara volume produksi yang tumbuh, ekspansi kapasitas berbiaya rendah, dan potensi aksi korporasi pasca publikasi laporan 1H26 yang sudah diaudit — membuat ARCI tetap menjadi salah satu cerita pertumbuhan yang paling konkret di sektor tambang emas Indonesia saat ini.