Porsi dolar AS di cadangan devisa global jatuh ke level terendah tiga dekade. Apa artinya bagi investor — dan mengapa ini bukan sekadar isu geopolitik.
Dolar Amerika sedang mengalami apa yang oleh para analis disebut momen *"go big or go home"*. Indeks DXY yang sempat diperdagangkan di kisaran 102 pada Juni kini merosot ke area 98 — melegakan bagi pemegang rupiah, dan terlebih lagi bagi mereka yang menyimpan yen. Tapi di balik pergerakan harga harian itu, ada pergeseran yang jauh lebih dalam sedang berlangsung: porsi dolar di cadangan devisa global baru saja menyentuh titik terendah dalam tiga dekade.
Pertanyaannya bukan apakah dolar akan runtuh besok — karena tidak akan. Pertanyaannya adalah apa artinya ketika dunia mulai menyiapkan *plan B* terhadap mata uang yang selama 80 tahun menjadi pusat sistem keuangan global.
Data yang Berbicara: COFER dan Porsi Dolar yang Terus MenyusutData terbaru IMF lewat survei COFER (*Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves*) menunjukkan porsi dolar AS di cadangan devisa resmi global sudah turun ke kisaran 57% — level terendah dalam tiga dekade terakhir, atau menyusut sekitar 20 poin persentase sejak 1999. Penurunan ini nyata, terukur, dan berlangsung delapan kuartal berturut-turut.
Yang menarik, ini bukan sekadar cerita "dolar kalah dari euro atau yen". Gabungan porsi empat mata uang cadangan tradisional — dolar AS, euro, yen Jepang, dan poundsterling — juga turun sekitar 12 poin persentase menjadi sekitar 87%. Artinya, yang terjadi bukan perpindahan antar mata uang besar, melainkan diversifikasi ke arah yang lebih luas: emas, yuan China, dan mata uang lain yang tidak masuk kategori utama. China — dan dalam skala lebih kecil Rusia — menyumbang porsi signifikan dari pergeseran ini.
Perlu dicatat juga konteks metodologisnya: sejak 2025, IMF mengubah cara menghitung COFER dan kini mengimputasi sebagian data cadangan yang sebelumnya tidak terklasifikasi. Sebagian penurunan bisa jadi efek teknis — tetapi arah trennya sudah jelas dan konsisten, apa pun basis perhitungannya.
Bukan Boikot: Dolar Masih Dipakai, Tapi Tidak Lagi SendirianSalah satu kesalahpahaman terbesar tentang de-dolarisasi adalah anggapan semua orang berlomba membuang dolar. Data bercerita lain. Antara 2015 dan 2023, jumlah negara yang menambah porsi dolar di cadangannya hampir sama banyaknya dengan yang menguranginya. Penurunan porsi dolar justru terkonsentrasi pada sekelompok negara yang relatif kecil — terutama mereka yang punya alasan geopolitik untuk menjauh.
Pemicunya sudah dikenal luas: pembekuan sekitar US$300 miliar cadangan bank sentral Rusia pada 2022 menjadi *watershed moment*. Peristiwa itu mengirim pesan yang tidak bisa ditarik kembali — aset yang didenominasi dolar bisa dibekukan karena alasan politik. Bank sentral dari Beijing hingga BrasĂlia mulai berpikir ulang tentang keamanan kepemilikan dolar mereka. Konsekuensinya terlihat: kepemilikan asing atas US Treasury turun dari puncak US$7,2 triliun pada 2021 ke sekitar US$6,5 triliun di awal 2026, dengan China memangkas kepemilikannya dari lebih US$1 triliun menjadi sekitar US$759 miliar.
Namun, dolar tidak sedang ditinggalkan semua orang. Dolar masih menyelesaikan sekitar 88% transaksi valuta asing global dan tetap menjadi mata uang dominan untuk pembayaran dan penyimpanan nilai. Yang berubah adalah dari *satu-satunya pilihan* menjadi *salah satu pilihan* — perbedaan halus tapi berdampak besar dalam jangka panjang.
Emas: Pemenang Diam-Diam di Tengah Perebutan HegemoniDi tengah cerita de-dolarisasi, ada satu aset yang bergerak paling konsisten: emas. Bank sentral dunia membeli rekor 1.237 ton emas pada 2025 — tahun keempat beruntun pembelian di atas 1.000 ton. Polandia menjadi pembeli terbesar, sementara China menambah sekitar 290 ton. Total kepemilikan emas resmi global kini menembus 38.000 ton.
Fenomena ini bukan kebetulan. Saat kepercayaan terhadap aset berbasis satu negara penerbit mulai goyah, emas menjadi pelabuhan yang netral — tidak diterbitkan oleh pemerintah mana pun, tidak bisa dibekukan oleh sanksi siapa pun. Analisis ECB bahkan mencatat emas kini mencapai sekitar 27% dari total cadangan resmi global jika dihitung berdasarkan harga pasar — melampaui porsi US Treasury. Bank sentral tidak sedang meninggalkan dolar sepenuhnya; mereka sedang mengasuransikan diri.
Apa Artinya bagi InvestorAda tiga implikasi praktis yang layak dicermati. Pertama, pergeseran struktural ini punya harga untuk Amerika. Setiap penurunan porsi dolar di cadangan global berarti permintaan terhadap aset dolar — terutama Treasury — berkurang di sisi marjinal. Dalam jangka panjang, itu berarti tekanan ke atas pada imbal hasil obligasi AS: beberapa analis memperkirakan setiap penurunan satu poin persentase porsi dolar bisa menambah 10–15 *basis point* pada suku bunga jangka panjang AS. Defisit fiskal Amerika yang besar membuat dinamika ini semakin sensitif.
Kedua, bagi Indonesia, pelemahan dolar adalah angin segar di sisi nilai tukar — rupiah cenderung lebih stabil saat DXY tertekan, dan arus modal asing ke aset emerging market biasanya membaik dalam lingkungan seperti ini. Namun jangan membaca ini sebagai tren satu arah: data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan pekan lalu sempat mendorong DXY kembali ke atas 99, dan pasar masih menunggu data inflasi. *Dolar yang melemah itu baik — selama tidak melemah karena kekacauan.*
Ketiga, diversifikasi cadangan dunia adalah sinyal jangka panjang untuk ikut mendiversifikasi portofolio. Saat bank sentral paling konservatif di dunia saja mulai menimbun emas dan memperluas keranjang mata uang mereka, investor ritel yang portofolionya 100% aset dolar mungkin perlu bertanya: apakah saya lebih yakin dari mereka?
Pada akhirnya, kisah de-dolarisasi bukan tentang meramal akhir dari dolar — melainkan tentang bersiap menghadapi dunia di mana dolar bukan lagi satu-satunya permainan. Perubahannya lambat, bahkan membosankan: beberapa poin persentase per tahun, di sini dan di sana. Tapi arahnya konsisten, dan seperti semua pergeseran struktural, dampaknya baru terasa penuh ketika sudah terlambat untuk bereaksi. Investor yang cermat membaca data COFER hari ini sedang melihat peta jalan sepuluh tahun ke depan.
— Rikopedia