Satu kalimat yang merangkum kondisi pasar global saat ini: earnings growth sedang beradu kepala dengan kenaikan suku bunga — dan sejauh ini, earnings yang unggul.
- Global equities diproyeksikan tumbuh 25%-34% earnings di 2026 dan 14%-16% di 2027, cukup kuat untuk menyerap tekanan dari kenaikan yield obligasi.
- Fed diperkirakan masih akan hike dua kali lagi hingga Juni 2027, membawa Fed funds rate ke 4,5% — lebih lambat dari ekspektasi pasar yang price-in ~90bps hike dalam 12 bulan ke depan.
- Oil mendekati USD 100/bbl akibat eskalasi konflik Timur Tengah, tapi secara real (inflation-adjusted) masih jauh dari level "oil shock" historis.
- Posisi Overweight: US equities, Asia ex-Japan, EM USD bonds, dan gold (target 12 bulan: USD 5.000/oz).
Bayangkan seseorang yang gajinya naik 34% tahun ini, tapi cicilan KPR-nya juga naik karena bunga bank merangkak. Apakah dia bangkrut? Belum tentu — selama kenaikan gaji jauh lebih besar dari kenaikan cicilan. Itulah persis yang sedang terjadi di pasar saham global: earnings momentum masih cukup tebal untuk menutup valuation drag dari higher yields.
Kenapa Fed Masih Hawkish?
September 2026 jadi momen bersejarah: untuk pertama kalinya dalam catatan, Fed, ECB, dan BoJ semuanya menaikkan suku bunga di bulan yang sama. Ini bukan kebetulan — ketiganya merespons lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah yang kembali memanas, ditambah ketatnya pasar tenaga kerja di masing-masing kawasan.
Di AS, core PCE inflation bertahan di atas 3% sejak Maret, dan supercore inflation (inflasi yang mengecualikan energi dan pangan, bahkan sewa — indikator paling "bersih" untuk melihat tekanan inflasi struktural) masih sekitar 3%. Payrolls bulanan rata-rata 80.000 orang di 2026, naik drastis dari hanya 10.000 di 2025. Dengan unemployment rate 4,1%, ekonomi AS praktis sudah dalam kondisi full employment.
Namun ada satu detail penting yang sering luput: inflasi inti konsumen (core CPI) sebesar 2,4% y/y adalah yang terendah sejak 2021. Artinya, lonjakan headline inflation lebih banyak didorong oleh faktor idiosinkratik — tarif pesawat, hotel, dan lonjakan tagihan paket wireless — bukan tekanan permintaan yang meluas. Ini penting karena mengindikasikan Fed tidak perlu mengejar terminal rate setinggi yang dipricing pasar.
Oil di USD 100: Ancaman Nyata atau Lebay?
Harga minyak memang menyentuh USD 100/bbl, tapi konteksnya krusial. Kalau dihitung secara real (sudah disesuaikan inflasi), harga minyak saat ini masih mendekati rata-rata jangka panjang — jauh dari level "oil shock" seperti pasca-invasi Rusia ke Ukraina 2022 atau puncak commodity supercycle 2004–2008. Analoginya: harga bensin naik, tapi pendapatan Anda juga naik lebih cepat, jadi daya beli riil tidak terlalu terkikis.
Skenario yang benar-benar berbahaya baru terjadi jika oil menembus USD 120–150/bbl. Di bawah level itu, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang solid dan intensitas penggunaan energi yang lebih rendah dibanding era 1970-an membuat global economy relatif tahan banting. Risiko terbesar tetap eskalasi konflik di Selat Bab al-Mandab yang bisa memotong jalur pengiriman kritis.
Equities: Buy the Dip, Bukan Panik
Pause yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di pasar saham bukan sinyal pembalikan tren. Tiga faktor penyebabnya sudah teridentifikasi: kenaikan bond yields, September seasonality (secara historis September memang bulan terlemah untuk saham), dan investor optimism yang berlebihan di pertengahan tahun. Ketiganya bersifat sementara.
Yang struktural justru berlawanan arah: earnings revision index (ERI) untuk MSCI AC World masih positif, artinya lebih banyak analis yang menaikkan estimasi earnings daripada yang menurunkannya. Target S&P 500 di 8.400 menyiratkan upside ~9% dari level saat ini, sementara Nasdaq 100 di 34.000 punya ruang 12%.
Dalam konteks regional, Asia ex-Japan menjadi pilihan paling menarik secara valuasi: P/E-nya paling rendah di antara kawasan utama, sementara earnings growth-nya justru paling tinggi — kombinasi yang jarang terjadi bersamaan. Taiwan tetap Overweight karena dominasinya di manufaktur chip AI advanced. China diturunkan ke Core holding: valuasi memang murah, tapi katalis re-rating tertunda oleh restriksi chip AS, tekanan pajak offshore trust, dan lemahnya permintaan domestik.
Obligasi: Jangan Kejar Durasi Panjang
Kalau saham seperti usaha warung yang sedang ramai, obligasi jangka panjang saat ini ibarat menyewakan ruko dengan kontrak 30 tahun di tengah ketidakpastian harga sewa — risikonya tidak sepadan. Term premium (premi yang diminta investor untuk menahan obligasi bertenor sangat panjang) masih berpotensi naik lebih lanjut karena defisit fiskal AS yang besar dan kekhawatiran inflasi yang belum sepenuhnya reda.
Zona aman ada di tenor 3–7 tahun. Di sini, carry (pendapatan kupon) masih menarik tanpa menanggung risiko volatilitas yang berlebihan. Untuk yang mau ambil risiko lebih: EM USD bonds menawarkan yield premium ~2,5% di atas obligasi DM dengan fundamental kredit yang masih solid. US HY bonds juga layak dipertimbangkan — default rate masih di bawah rata-rata historis, dan profil durasinya yang pendek membuatnya lebih kebal terhadap volatilitas suku bunga.
Gold dan USD: Dua Sisi yang Saling Tarik
Gold sudah membuktikan ketangguhannya: tetap resilient meski Fed hawkish dan real yields melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Ini mengindikasikan pasar sudah price-in sebagian besar skenario pengetatan. Target 12 bulan di USD 5.000/oz didukung oleh permintaan central bank yang semakin tersebar luas (bukan hanya China dan Rusia, tapi juga Polandia, Singapura, Malaysia, hingga Ghana) serta potensi pelemahan USD secara gradual.
Untuk USD sendiri: kuat dalam jangka pendek (DXY target 3 bulan: 100,2) karena Fed masih hawkish, tapi melemah moderat dalam 12 bulan ke depan (target DXY: 98) seiring puncak siklus kenaikan suku bunga yang semakin dekat. JPY punya potensi penguatan paling besar — BoJ dijadwalkan hike setiap kuartal hingga Q2 2027, dan JPY masih terhitung undervalued secara fundamental.