LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Ekonomi China 2026: Rebound PMI, Tapi Ada Retakan

PMI manufaktur China rebound di bulan Agustus — baik versi RatingDog (51.5) maupun NBS (49.8) — setelah sempat melemah sepanjang musim panas. Sebagian besar kenaikan ini didorong recovery di export orders, yang memang jadi komponen paling responsif terhadap siklus global. Tapi ada satu angka yang perlu diperhatikan lebih serius: composite PMI employment turun dari 47.0 ke 46.7. Di bawah 50 itu sudah kontraksi, dan tren penurunannya konsisten. Ini bukan sinyal bagus untuk consumption recovery — sesuatu yang selama ini jadi titik lemah terbesar ekonomi China pasca-pandemi.

Di sisi lain, Taiwan dan South Korea — dua negara paling exposed ke AI investment cycle — justru mencatat sedikit penurunan PMI. Taiwan dari 55.1 ke 54.7, South Korea dari 53.1 ke 52.3. New orders kedua negara bergerak sideways beberapa bulan terakhir, mengindikasikan pertumbuhan yang mungkin sudah plateau di level tinggi. Capacity constraints di sektor chip kemungkinan besar jadi bottleneck yang menahan ekspansi produksi lebih lanjut.

Yang lebih menarik adalah data industrial profits China untuk Juli: growth melambat tajam dari 24.7% y/y menjadi 11.2% y/y. Ini bukan sekadar angka — ini cerminan dari bifurcated economy yang makin jelas terlihat. Sektor high-tech seperti AI dan robotics masih mencatat profit growth yang kuat, sementara sektor consumer-facing seperti otomotif, pakaian, dan furnitur justru mencatat penurunan laba. Dua kecepatan berbeda dalam satu ekonomi, dan gap-nya tidak mengecil.

Dari sisi kebijakan, ada tekanan yang cukup eksplisit dari pemerintah pusat agar local governments mempercepat realisasi belanja fiskal di H2 2026. Narasi yang muncul adalah bahwa perlambatan ekonomi musim panas ini sebagian besar disebabkan oleh lambatnya penyerapan dana yang sebenarnya sudah tersedia. Fokus akselerasi belanja diarahkan ke enam jaringan infrastruktur prioritas dalam Five Year Plan 2026–2030: air, power grid, AI infrastructure (data centres), 5G/6G, urban pipelines, dan logistics network. Ini relevan bagi investor yang positioning di sektor infrastruktur dan teknologi China.

Di sektor properti, regulasi baru melarang model pre-sales financing yang selama ini jadi tulang punggung developer swasta. Developer kini wajib menyelesaikan struktur utama bangunan sebelum bisa mulai menjual unit. Dana pre-sales pun harus masuk ke rekening khusus sampai unit selesai dibangun. Dampaknya sudah terlihat: market share developer milik negara (SOE) sudah mencapai 70%, naik drastis dari 30% sebelum krisis properti 2021. Konsolidasi ke SOE ini kemungkinan akan terus berlanjut — dan itu berarti private developers yang masih bertahan akan semakin terpinggirkan dari akses kredit perbankan.

Di pasar modal, dua nama menarik perhatian. CXMT — produsen chip DRAM China yang baru saja IPO — melaporkan revenue growth 870% di H1 2026, didorong shortage memori global yang mendorong harga naik tajam. Dengan market share sekitar 8% secara global, CXMT masih jauh di belakang Micron, Samsung, dan SK Hynix dari sisi teknologi, tapi momentum revenue-nya luar biasa. Sementara Z.ai (Zhipu) mencatat revenue growth 400% di H1, meski masih net loss CNY 2.07 miliar karena R&D spend yang agresif (CNY 2.13 miliar di H1 saja). Growth story-nya nyata, tapi path to profitability masih panjang.

Satu hal yang cukup striking dari sisi macro global: yield obligasi China 10 tahun kini di 1.69%, berbanding 4.75% di AS dan 2.92% di Jepang. Divergensi ini mencerminkan tekanan deflasi yang masih membayangi China di satu sisi, versus tekanan inflasi yang persisten di AS dan Jepang di sisi lain. Chinese bonds kini mulai dipandang sebagai safe haven tersendiri — kombinasi declining yields dan CNY yang menguat menjadi daya tarik tersendiri bagi investor global yang mencari diversifikasi. Meski PBOC terlihat mulai mengerem laju apresiasi CNY sejak Juni, tren penguatan yuan secara struktural masih intact.