Fed akhirnya bergerak. Dalam rapat FOMC 15–16 September 2026, suku bunga dinaikkan 25bp secara unanimous — seluruh anggota setuju, tanpa satu pun dissenting vote — membawa federal funds rate ke kisaran 3.75–4.00%. Ini kenaikan pertama sejak 2023, dan pasar sudah mengantisipasi. Tapi justru di situlah menariknya: meski sudah priced in, USD tetap menguat pasca-keputusan.
Kenapa? Karena bukan hanya soal besaran kenaikannya — tapi sinyal ke depan yang dibawa. Chair Warsh tampil hawkish di press conference: inflasi masih terlalu tinggi, labor market masih solid, dan kebijakan saat ini pun masih bersifat akomodatif. Artinya, kenaikan kemarin baru sekadar mengurangi akomodasi — belum benar-benar ketat.
Yang lebih penting adalah dot plot-nya. Median proyeksi menunjukkan federal funds rate di akhir 2026 tetap di 4.125% — artinya masih ada satu kenaikan lagi yang diantisipasi sebelum tahun ini berakhir. Sebagian peserta bahkan masih melihat kemungkinan kenaikan tambahan di 2027. Bandingkan dengan proyeksi Juni lalu yang hanya menarget 3.750% di akhir 2026 — revisi ke atas ini cukup signifikan.
Bayangkan seperti ini: kalau suku bunga adalah suhu AC di ruangan, Fed baru saja menurunkan suhunya satu strip — dari 25°C ke 24°C. Tapi target akhirnya mungkin 22°C. Pasar sudah pricing in sekitar 23°C. Jadi masih ada gap, tapi tidak terlalu jauh — itulah kenapa reaksi USD menguat, tapi tidak dramatis.
Data proyeksi ekonomi FOMC juga layak dicermati:
- Real GDP growth 2026 direvisi naik tipis ke 2.3% (dari 2.2% di Juni) — ekonomi AS masih resilient.
- Unemployment rate direvisi turun ke 4.1% untuk 2026–2028 (sebelumnya 4.3%) — labor market lebih kuat dari perkiraan.
- PCE inflation 2026 naik tipis ke 3.7% (dari 3.6%) — inflasi turun tapi masih jauh dari target 2%.
- Core PCE 2026 di 3.4%, turun ke 2.5% di 2027 — disinflasi berjalan, tapi pelan.
Kombinasi ini — pertumbuhan yang lebih kuat dari ekspektasi, inflasi yang masih elevated, dan labor market yang belum mendingin — memberikan Fed cukup amunisi untuk tetap hawkish. Dan itu menjadi fondasi untuk USD yang lebih kuat.
Namun upside USD kemungkinan bersifat gradual, bukan vertikal. Alasannya: gap antara dot plot Fed dan market pricing tidak terlalu besar. Artinya tidak ada ruang untuk major repricing ekspektasi suku bunga yang bisa mendorong USD melonjak tajam. Ditambah lagi, bank sentral G10 lainnya juga sedang dalam mode hawkish — ECB, BoE, bahkan BoJ mulai bergerak — sehingga keunggulan relatif USD tidak sepremium dulu.
Yang membuat USD tetap menarik secara relatif adalah eksposurnya yang lebih rendah terhadap tekanan harga energi dibanding EUR, GBP, atau JPY. Eropa dan Inggris masih menanggung beban energy cost yang tinggi yang menekan daya beli dan margin korporasi. AS relatif lebih terlindungi, dan itu tercermin dalam resiliensi ekonominya.
Bagi investor yang terekspos aset berbasis USD atau memiliki portofolio dengan komponen FX, ini bukan momen untuk panik — tapi juga bukan momen untuk mengabaikan risiko. Penguatan USD yang gradual bisa menjadi headwind bagi emerging market assets, termasuk rupiah dan aset rupiah-denominated, terutama kalau data AS yang masuk dalam beberapa bulan ke depan terus mengkonfirmasi narasi higher for longer.