LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

ISAT: Operator Biasa atau AI Play Terbesar di BEI?

Kalau masih melihat ISAT sebagai operator telekomunikasi biasa yang bersaing di pasar SIM card jenuh, mungkin sudah saatnya reconsider. Transformasi yang sedang berjalan di Indosat jauh lebih besar dari sekadar upgrade jaringan — ini adalah pivot ke compute infrastructure, dan angka-angkanya cukup serius untuk diperhatikan.

Ceritanya dimulai dari dua entitas: Lintasarta dan ZanKore. Lintasarta, anak usaha ISAT, sudah mengamankan contracted Neo Cloud revenue tahunan sekitar $300 juta, didukung capex ~$650 juta dengan estimasi EBITDA margin mencapai 80%. GPU cluster berbasis NVIDIA Grace Blackwell dijadwalkan aktif Oktober 2026 dengan kapasitas awal ~20MW. Dari sisi valuasi, proyek ini diperkirakan bernilai ~$803 juta — dan dengan kepemilikan 72% ISAT di Lintasarta, kontribusi inkremental ke harga saham sekitar Rp330/saham.

ZanKore adalah yang lebih ambisius. Target kapasitas AI computing-nya 1GW, dengan 200MW pertama aktif di 1H27. Pada utilisasi penuh, platform ini bisa menghasilkan revenue tahunan ~$13.3 miliar dan EBITDA lebih dari $9 miliar. Ooredoo masuk dengan suntikan ekuitas $800 juta untuk porsi 49%. Kalau economic interest ISAT di ZanKore diasumsikan 20%, nilai porsinya sekitar $2.6 miliar atau Rp1,400/saham — angka yang masif dibanding harga saham saat ini di kisaran Rp2,420.

Secara finansial, trajectory-nya juga solid. Revenue 2026F diproyeksikan tumbuh 13.6% YoY ke Rp64.2 triliun, dengan net profit melonjak 33.3% ke Rp7.3 triliun. EBITDA margin bahkan diperkirakan menembus 50% di 2027–2028, naik dari kisaran 47% di 2024–2025. Yang menarik, EPS estimates internal berada 16–22% di atas konsensus pasar untuk 2026–2028 — artinya ada potensi earnings surprise yang belum sepenuhnya ter-price in.

Dari sisi valuation, ISAT diperdagangkan di 9.4x P/E 2026F dan 8.9x P/E 2027F, dengan EV/EBITDA hanya 2.7x dan 2.3x. Untuk sebuah perusahaan yang sedang bertransformasi menjadi AI infrastructure play dengan exposure ke neocloud hyperscale, ini tergolong sangat murah dibanding peers di AS. Dividend yield-nya pun makin menarik: 6.4% di 2026F dan naik ke 7.9% di 2027F — jadi sambil tunggu katalis AI, investor tetap dibayar.

Balance sheet masih manageable. Net gearing di 0.4x (2026F) memang naik dari 0.3x karena capex besar (~Rp28.9 triliun di 2026F untuk mendukung buildout), tapi proyeksinya turun kembali ke 0.1x di 2028F seiring cash flow operasional yang menguat — dari Rp19.9 triliun (2025) menuju Rp30.2 triliun (2028F).

Dua katalis utama yang perlu diperhatikan dalam jangka dekat: commissioning cluster Lintasarta di 4Q26 dan kejelasan struktur kepemilikan ekonomis ISAT di ZanKore. Keduanya bisa menjadi re-rating trigger yang signifikan. Risiko utamanya jelas — kalau ZanKore molor atau economics-nya lebih buruk dari proyeksi, sebagian besar thesis ini runtuh. Tapi dengan saham yang masih diperdagangkan di harga yang belum mencerminkan skenario AI sama sekali, risk-reward-nya terlihat miring ke sisi positif.

Dalam 10 tahun ke depan, bisnis AI diproyeksikan menyumbang 38% revenue dan 47% EBITDA grup ISAT — mendorong revenue CAGR ~9% dan EBITDA CAGR ~12%. Kalau itu terealisasi, ISAT hari ini bukan lagi telko yang sedang stagnan. Ini adalah AI infrastructure company yang masih dihargai seperti operator lama.