LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

JPFA: Laba 1H26 Dobel, Tapi Ada Risiko di 2H

Net profit JPFA di 1H26 tumbuh 100% YoY menjadi IDR2,5 triliun — angka yang cukup untuk membuat investor dua kali lihat. Tapi sebelum terlalu excited, ada beberapa hal yang perlu diurai lebih dalam, terutama soal apa yang terjadi di 2Q26 dan ke mana arah momentum ini di paruh kedua tahun ini.

Revenue 2Q26 tercatat IDR17,6 triliun, tumbuh 34,2% YoY meski flat secara QoQ (-0,4%). Flattish QoQ ini wajar — ada efek normalisasi permintaan pasca musim festif dan bulan Suro yang secara historis menekan konsumsi. Semua segmen tumbuh YoY: feed +42,4%, poultry breeding +45,4%, trading +45,9%, aquaculture +38,8%, processed chicken +33,7%, bahkan broiler +23,1%. Broad-based growth seperti ini biasanya sinyal operasional yang sehat.

Yang perlu dicermati justru di sisi margin. GPM turun signifikan ke 17,6% di 2Q26, dari 25,5% di 1Q26. Ini bukan angka kecil — ada compression hampir 8 ppt dalam satu kuartal. Penyebabnya kombinasi: normalisasi harga broiler setelah spike di awal tahun, plus input cost yang naik karena USD yang masih elevated. Opex pun ikut melar +24% YoY, didorong freight dan employee cost, sehingga EBIT margin terpangkas ke 6,3% (-8,4 ppt QoQ). Net profit 2Q26 sendiri IDR659 miliar, turun 63,7% dari 1Q26 meski masih +18,6% YoY.

Secara positioning, JPFA adalah pemain #2 di industri poultry Indonesia dengan market share DOC sekitar 25% dan feed sekitar 22%. Skala ini penting — bulk purchasing untuk raw material dan diversifikasi segmen (processing kini makin berkontribusi) jadi buffer ketika kondisi operasional menantang. Tapi justru di sini letak tensionnya: program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang selama ini jadi demand driver untuk DOC sudah dipangkas 32% YTD. Ini bukan risiko kecil.

Untuk 9M26, proyeksi revenue ada di IDR48,9 triliun (+13,4% YoY) dengan net profit IDR3,5 triliun (+34,4% YoY). Angka ini masih positif, tapi perlu diingat bahwa earnings estimate sudah direvisi turun 1,1–12,9% untuk FY26–28F untuk mengakomodasi pemotongan MBG dan tekanan input cost. Revisi ini bukan hal sepele, terutama untuk FY28 di mana ada tambahan risiko: kuota GPS 800 ribu ekor (+40% YoY) yang berpotensi menekan harga broiler di 2028F.

Dari sisi valuation, JPFA saat ini trading di sekitar -1 standar deviasi dari 5-year forward PE-nya. Relatif terhadap peer regional, P/E 27F JPFA di 5,9x terlihat lebih murah dibanding CPIN (8,1x) maupun rata-rata sektor (9,6x), dengan EV/EBITDA 4,2x vs sektor 6,4x. ROE 27F diestimasi 17,6% dengan net gearing 21,2% — balance sheet yang masih manageable. Dividend yield 26F sekitar 5,8%, setara CPIN.

Risiko utama yang perlu diperhatikan ke depan:

  • Pemotongan budget MBG yang bisa menekan harga broiler di 2H26
  • USD yang masih kuat = tekanan input cost berlanjut
  • IDR depreciation yang menggerus purchasing power konsumen
  • Kuota GPS yang besar berpotensi oversupply DOC di 2028F

Target price yang beredar di pasar ada di kisaran IDR2.800, sementara harga terakhir di IDR3.099 — artinya secara teknikal sudah di atas TP tersebut. Ini menarik: apakah pasar sudah terlalu cepat mendiskon good news dari 1H26, atau memang ada upside dari earnings revision yang belum sepenuhnya dipricing? Jawabannya sangat bergantung pada seberapa agresif pemerintah memotong atau memulihkan anggaran MBG di sisa tahun ini.