Australia memegang US$814,9 miliar aset investasi di luar negeri per akhir 2025. Angka yang besar. Tapi kalau ditelusuri ke mana uang itu mengalir, Indonesia hampir tidak muncul di radar.
Tiga sektor yang mendominasi aliran modal Australia ke luar negeri adalah financial services (US$195 miliar), mining, oil and gas (US$159 miliar), dan manufacturing (US$113 miliar) — gabungannya menyumbang 57% dari total. Tiga sektor ini adalah DNA investasi Australia di luar negeri. Dan justru di sinilah masalahnya dimulai ketika kita bicara soal Indonesia.
Realisasi investasi Australia di Indonesia memang tumbuh dari US$168 juta di 2015 menjadi US$739 juta di puncaknya tahun 2024. Tidak buruk secara nominal. Tapi kalau dilihat komposisinya, pertambangan mendominasi 52% dari total selama 11 tahun, sementara manufaktur stagnan — tidak pernah menembus US$182 juta per tahun, dan di 2025 hanya tercatat US$40 juta. Satu sektor yang bekerja, sisanya ekor panjang yang tipis.
Yang lebih mengejutkan adalah data pangsa pasar Australia di sektor-sektor unggulannya sendiri di Indonesia. Di sektor pertambangan, share Australia dari total investasi 2015–2025 hanya 3,32%. Di manufaktur, angkanya lebih menyedihkan lagi: 0,21%. Bukan sekadar kecil — ini masuk kategori rounding error dalam konteks investasi global.
Perbandingannya makin tajam ketika melihat siapa yang benar-benar mengisi sektor-sektor tersebut di Indonesia. Di pertambangan, modal domestik Indonesia justru terus menguat — dari 26% di 2017 menjadi 62% di 2025. Di manufaktur, investor asing lainnya (China, Jepang, Korea, dll.) konsisten menguasai 69–73% dari total investasi. Australia? Nyaris tidak terlihat.
Ada satu faktor teknis yang memperparah gambaran ini: BKPM tidak mencatat investasi di sektor financial services maupun upstream oil and gas dalam data realisasinya. Dua dari tiga sektor inti Australia secara global tidak tertangkap penuh oleh sistem pelaporan Indonesia. Artinya, gap yang terlihat pun belum tentu mencerminkan gap yang sesungguhnya — bisa jadi lebih besar, bisa juga ada aktivitas yang tidak terdokumentasi.
Pertanyaannya bukan lagi soal apakah peluang ada di Indonesia. Sektor pertambangan Indonesia sedang dalam siklus investasi terbesar sepanjang sejarah — total realisasi 2025 mencapai US$12,5 miliar, naik tiga kali lipat dibanding 2015. Manufaktur juga tumbuh dari US$18,9 miliar ke US$48,7 miliar dalam periode yang sama. Peluangnya nyata dan terbuka lebar. Yang belum terjawab adalah mengapa modal Australia — yang secara kapabilitas dan sektoral sangat relevan — justru absen dari momentum ini.