LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Q4 2026: Rally Masih Lanjut, Tapi Ada Jebakan

Kalau ada satu hal yang konsisten mengejutkan pasar sepanjang 2026, itu adalah betapa tangguhnya earnings global di tengah semua kebisingan geopolitik, oil price spikes, dan perdebatan soal dampak AI ke tenaga kerja. Setiap kali pasar mulai pricing in skenario buruk, earnings datang lebih kuat dari ekspektasi dan membatalkan thesis negatif itu. Ini bukan keberuntungan — ini adalah hasil dari adaptasi struktural yang sedang terjadi di level perusahaan, pemerintah, dan tenaga kerja.

Yang menarik untuk Q4 2026 adalah bahwa rally tidak lagi bergantung pada segelintir megacap US tech. Earnings growth mulai broadening — ke financials, industrials, materials, bahkan sebagian Europe. AI tetap menjadi engine utama, tapi sekarang efeknya sudah mulai diffuse: AI butuh listrik, AI butuh chips, AI butuh infrastruktur data centre, AI butuh cybersecurity, dan semua itu menciptakan earnings tailwind di sektor-sektor yang dua tahun lalu tidak ada di radar investor AI.

Dari sisi valuasi, US equity tidak lagi mahal secara relatif. US tech sekarang trading di P/E multiple yang lebih rendah dibanding tahun lalu, dan premium valuasi US vs Europe sudah tightening ke level terendah sejak 2020. Artinya, rally yang terjadi bukan karena multiple expansion — ini earnings-driven, dan itu jauh lebih sustainable.

Untuk Asia, thesis-nya semakin solid. South Korea dan Taiwan masih menjadi prime beneficiary dari global AI capex cycle — memory dan semiconductor demand kuat, supply terkonstrain, dan H1 earnings dari cloud dan semiconductor providers sudah beat ekspektasi secara konsisten. China menawarkan angle yang berbeda: bukan hanya sebagai manufaktur, tapi sekarang juga sebagai inovator — open-source AI models, robotics, biotech, dan cloud computing domestik yang didorong oleh strong policy support dan captive demand. EM Asia secara keseluruhan saat ini trading near 7-year low forward P/E, yang membuat entry point cukup compelling kalau mau exposure ke growth story ini.

Japan juga mulai menarik perhatian lebih serius. Corporate governance reform yang sudah berjalan beberapa tahun mulai menghasilkan: wage growth, reflation, dan earnings broadening lintas industri. Bukan hanya export-driven story lagi.

Di fixed income, situasinya lebih nuanced. Bond returns tahun ini subdued karena yield curve steepening dan uncertainty seputar Fed Chair Warsh yang baru. Jackson Hole sedikit memberikan clarity — hawkish stance dikonfirmasi, komitmen anti-inflasi direiterate — tapi lack of forward guidance membuat pasar tetap data-dependent dan volatil. Long-end UST yields sudah naik ke level yang mulai menarik buyers kembali masuk, tapi belum ada katalis kuat untuk yields turun signifikan dalam waktu dekat. Potensi trigger: data ekonomi US yang lebih lemah, positive fiscal surprise, atau perubahan Treasury funding strategy. Sampai salah satu itu terjadi, strategi yang masuk akal adalah lock in quality bond yields di level sekarang dengan medium duration, bukan extend agresif.

USD tetap didukung oleh yield differential, resilient US growth, dan safe-haven demand dari geopolitical uncertainty. EUR dan GBP lebih vulnerable — growth differential negatif vs US, ditambah fiscal concerns di UK. JPY volatile karena kombinasi BoJ policy uncertainty dan intervensi. Untuk EM currencies, energy exporters seperti BRL dan MXN punya buffer, sementara energy importers seperti IDR dan India rupee lebih exposed ke higher import bills.

Gold menarik secara strategis. Central bank buying tetap jadi backbone demand, dan US Treasury volatility justru memperkuat case untuk reserve diversification away from USD. Jangka pendek bisa volatile kalau Fed makin hawkish atau ada de-escalation geopolitik yang signifikan, tapi structural case-nya intact.

Untuk alternatives, infrastructure tetap berada di sweet spot: inflation-linked income, exposure ke AI capex, energy security, dan re-industrialisation — semua dalam satu asset class. Private equity menarik karena banyak value creation AI yang terjadi di private market, bukan public. Dan hedge funds, setelah July yang berat untuk CTAs, sudah kembali perform di August dengan leverage yang sudah lebih sehat.

Bottom line untuk Q4: opportunity set-nya lebar, tapi navigasinya tidak bisa passive. Broadening earnings adalah sinyal positif, tapi K-shaped economy berarti tidak semua sektor ikut naik — consumer staples di segmen lower-income masih tertekan. Fokus pada AI monetisation (cloud, semiconductors, AI-enabled applications), energy dan security infrastructure, dan Asia innovation story. Diversifikasi tetap kunci, karena di environment seperti ini, concentration risk bisa mahal.