LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Rally Saham Global Masih Aman? Ini 4 Risikonya

Brent crude tembus USD 100 per barel. Fed dan ECB sama-sama naikan suku bunga 25 bps di bulan September. Inflasi masih sticky. Utang pemerintah di negara-negara maju sudah di level yang bikin ngeri. Tapi di tengah semua itu, konsensus analis global justru bilang: equity rally belum selesai. Kok bisa?

Jawabannya ada di earnings. S&P 500 diproyeksikan tumbuh laba 25% di tahun ini, lalu 14% di 2027. Eurozone tidak kalah — estimasi earnings growth 15% untuk dua tahun ke depan. Kalau angka-angka ini terealisasi, valuasi yang kelihatan mahal sekarang bisa cepat jadi wajar. Ibaratnya seperti harga sewa kos yang kelihatan mahal, tapi kalau penghasilanmu naik dua kali lipat, tiba-tiba terasa terjangkau.

Tapi ada empat kekhawatiran besar yang perlu dibedah satu per satu — karena masing-masing punya implikasi berbeda buat portofolio.

Valuasi mahal di dekat all-time high

S&P 500 saat ini cuma 3% di bawah rekor tertingginya, dengan forward P/E sekitar 19x — di atas rata-rata 25 tahun yang ada di 16.7x. CAPE ratio bahkan ada di sekitar 40.6x, masuk persentil ke-99 sejak 1881. Angka ini terdengar alarm, tapi historisnya justru menarik: dalam 100 tahun terakhir, S&P 500 berada di atau dalam 10% dari all-time high lebih dari dua pertiga waktu. Dan rata-rata return 12 bulan setelah all-time high tercatat 11.7% — lebih tinggi dari periode biasa yang 10%. Jadi all-time high bukan sinyal jual otomatis.

Yang lebih penting: valuasi bergantung pada earnings. Sektor semikonduktor misalnya, sekarang diperdagangkan di 21x forward earnings — turun dari puncak 33x. Kalau earnings momentum terus berlanjut, multiple yang tinggi bisa terkompresi secara organik tanpa harga saham harus turun.

AI: bubble atau transformasi nyata?

Global AI capex diperkirakan mencapai USD 900 miliar tahun ini dan USD 1,2 triliun di 2027. Angka sebesar ini wajar memunculkan pertanyaan: apakah ini spekulasi seperti dot-com bubble dulu?

Ada satu data yang menarik: sejak akhir Juni, harga token AI turun sekitar 42%, tapi volume penggunaan melonjak 176%. Ini pola klasik dari revolusi teknologi — ketika sesuatu makin murah dan makin canggih, adopsinya justru akselerasi, bukan melambat. Bayangkan tarif ojek online yang turun drastis di awal — pengguna langsung meledak. Itulah yang sedang terjadi di AI.

NVIDIA baru saja menaikkan proyeksi revenue growth untuk tahun fiskal berikutnya ke 70%, jauh di atas konsensus sebelumnya di 42%. Broadcom, Dell, dan Oracle juga melaporkan permintaan AI yang melampaui ekspektasi. Risikonya tetap ada: distribusi keuntungan antara chip designer, cloud provider, dan application company masih belum jelas. Dan kenaikan harga memori bisa menggerus return on investment meski headline spending tetap besar.

Utang pemerintah: bom waktu atau sekadar noise?

Yield US Treasury 10 tahun sudah di atas 5%. Debt-to-GDP Amerika sudah di 124%, Jepang di 207%. Kalau yield tetap di level ini sampai 2030, estimasinya biaya bunga bersih AS bisa mencapai 17.7% dari total pendapatan pemerintah. Ini angka yang tidak bisa diabaikan.

Tapi — dan ini penting — utang tinggi tidak otomatis berarti return investasi buruk. Pemerintah punya beberapa opsi: pertumbuhan ekonomi, inflasi moderat, pengetatan fiskal, atau financial repression (memaksa suku bunga tetap rendah). Masing-masing opsi berdampak berbeda ke aset yang berbeda. Misalnya, kalau pemerintah pilih jalur inflasi dan negative real interest rates, yang paling dirugikan adalah pemegang cash dan obligasi fixed rate — bukan pemegang saham atau aset riil yang punya pricing power. Kesimpulannya: utang tinggi adalah alasan untuk thoughtful portfolio construction, bukan alasan untuk tidak berinvestasi sama sekali.

Geopolitik dan minyak di atas USD 100

Konflik di Timur Tengah mendorong Brent crude kembali ke atas USD 100 per barel. Inventori minyak global turun sekitar 400 juta barel sepanjang tahun ini. Situasi ini menekan inflasi dan memberi tekanan ke bank sentral untuk tetap hawkish.

Namun data historis menunjukkan sesuatu yang counterintuitive: median durasi penurunan S&P 500 akibat guncangan geopolitik hanya 16 hari. Sejak Pearl Harbor 1941, S&P 500 tercatat lebih tinggi 12 bulan setelah krisis geopolitik dimulai dalam sekitar tiga perempat kasus. Bahkan setelah pengumuman tarif "Liberation Day" April 2025 yang sempat menjatuhkan S&P 500 sebesar 11.5% dalam lima sesi, pasar pulih dalam sebulan. Pasar sering bereaksi berlebihan terhadap ketidakpastian, bukan terhadap kerusakan ekonomi yang nyata.

Dari sisi aset, beberapa posisi yang layak dipertimbangkan dalam kondisi ini: equities Eurozone, Asia ex-Japan, dan emerging markets untuk eksposur pro-siklikal; fixed income kelas menengah dengan investment grade yang kuat; dan komoditas — khususnya tembaga yang didukung permintaan dari power grid, data center, dan elektrifikasi. Gold tetap relevan sebagai diversifier, tapi bukan untuk dioverweight.

Yang paling sering diabaikan investor justru bukan satu pun dari empat risiko di atas — melainkan risiko terlalu banyak pegang cash. Dengan long-run pretax real return cash yang diestimasi hanya 0.7% per tahun, inflasi dan pajak perlahan-lahan menggerus daya beli. Cash itu seperti tangki air: terasa aman hari ini, tapi kalau terus diambil tanpa diisi ulang, lama-lama habis. Sementara portofolio ekuitas yang terdiversifikasi lebih seperti sungai — tidak selalu mulus, tapi punya kapasitas untuk mengisi ulang dirinya sendiri dari waktu ke waktu.