Kalau melihat angka headline 1H26 UNVR, kesan pertama bisa menyesatkan. Net profit 1H26 tercatat IDR2,970bn, naik 37.8% YoY — terdengar solid. Tapi angka itu mengandung IDR888bn gain dari disposal bisnis es krim di 1Q26. Lepaskan komponen itu, dan core profit 1H26 sesungguhnya adalah IDR2,082bn, tumbuh 10.2% YoY dan berjalan di 49.4% dari full-year estimate — in line, tidak lebih, tidak kurang.
Yang lebih menarik dari soal laba adalah bagaimana UNVR mencapainya. Revenue 2Q26 sebesar IDR8,457bn tumbuh 11.6% YoY, dengan HPC naik 13.1% dan 18 dari 24 brand mencatat pertumbuhan. Tapi komposisi pertumbuhannya krusial: UVG (volume growth) +12.7% sementara UPG (price growth) -1.7%. Artinya, UNVR sengaja mengorbankan harga untuk merebut volume — dan strategi ini berhasil mendorong volume share kembali ke 27.0%, level yang terakhir kali dicapai pada 2023.
Harga yang dibayar untuk strategi itu? Gross margin turun ke 45.0%, atau -316bps YoY. Ini bukan kebetulan — ketika pricing negatif bertemu dengan Rupiah yang melemah ~12% plus lonjakan input cost (naphtha +35% dan CPO +26% dalam denominasi IDR), margin memang harus tergerus. EBIT pun turun 15.3% YoY. Bayangkan seperti pemilik warung yang sengaja potong harga untuk rebut pelanggan dari warung sebelah — omzetnya naik, tapi margin per porsi tipis karena bahan baku juga lagi mahal.
Yang membuat situasi ini berbeda dari sekadar margin squeeze biasa: keputusan strategi itu sudah dibalik. Per Juni, UNVR mengimplementasikan selective price increase 5.0% — di atas threshold 3.9% yang diperlukan untuk menjaga gross margin. Dampaknya baru akan terasa di 3Q26, bukan 2Q26. Management juga memberikan guidance bahwa UPG akan kembali positif mulai kuartal yang sama. Ditambah lagi, transformation charges sekitar IDR180bn hanya tersisa satu kuartal lagi sebelum hilang, dan one-off LTI true-up di 1H tidak akan berulang. Underlying PBT margin ex-transformation bahkan sudah naik 45bps YoY ke 16.7% di 1H26 — artinya bisnis intinya sebenarnya sudah membaik, hanya tertutupi oleh biaya-biaya yang punya tanggal kedaluwarsa.
Di luar dinamika operasional, ada cerita yang lebih besar: pipeline disposal aset. Es krim sudah ditutup Desember 2025. SariWangi selesai Maret 2026. Hasilnya sudah parkir di balance sheet — kas naik dari IDR671bn ke IDR5,706bn. Proses kombinasi bisnis Foods dengan McCormick (diumumkan 31 Maret dengan EV USD44.8bn di level parent) sedang berjalan, dengan UK secondary listing sudah dikonfirmasi dan carve-out accounts on track untuk close pertengahan 2027.
Akumulasi kas dari seluruh pipeline ini mendukung proyeksi DPS total IDR777/saham sepanjang 2026F–2028F, atau sekitar 47% dari harga saham saat ini di IDR1,670. Dengan payout ratio historis mendekati 100%, asumsi bahwa kas ini akan didistribusikan — bukan ditahan — terasa reasonable.
Valuasi dibangun dengan metode SOTP: IDR1,437 untuk HPC (DCF), IDR469 present value special dividends, dan IDR95 interim dividends — total target price IDR2,000, atau upside ~19.4% dari harga saat ini. Cara paling simpel membaca ini: investor yang mengoleksi IDR777 dividen hanya perlu bisnis yang tersisa bernilai IDR983/saham. Padahal nilai HPC saja sudah diestimasi IDR1,437. Ada margin of safety yang cukup nyata di sini.
Dua hal lain yang menarik tapi belum masuk target price: struktur demerger (bukan outright sale) yang bersifat tax neutral dan bernilai sekitar IDR120/saham, serta foreign ownership yang sudah berada di level terendah dalam lima tahun terakhir dengan free float hanya 15% — keduanya bisa jadi katalis tambahan tanpa biaya tambahan.
Risiko yang perlu diawasi: 1) UPG gagal berbalik positif di 3Q26, 2) UVG justru berbalik negatif, 3) volume share tergelincir di bawah 27% — yang akan mengindikasikan pertumbuhan volume 2Q26 lebih karena gangguan supply kompetitor daripada kekuatan brand UNVR sendiri. Di sisi makro, El Niño yang mendorong CPO lebih tinggi ke 2027, stranded costs yang belum terkuantifikasi, serta kelemahan yang diakui parent di segmen Pond's dan oral care tetap menjadi variabel yang perlu dipantau.