Bond sell-off yang sedang berlangsung bukan anomali — ini kelanjutan dari proses normalisasi panjang yang sudah dimulai sejak era suku bunga ultra-rendah berakhir. 10-year US Treasury yield saat ini sebenarnya hanya sedikit di atas rata-rata historisnya sejak tahun 1800, yakni sekitar 4,5%. Jadi kalau ada yang bilang yield sekarang "ekstrem", datanya tidak mendukung klaim itu.
Yang lebih menarik adalah konteks Nominal GDP-nya. US Nominal GDP saat ini tumbuh 6,6% YoY — tertinggi sejak 2005 di luar periode rebound pasca-Covid. Secara historis, 10-year UST yield biasanya berjarak sekitar 70bps di bawah Nominal GDP. Dengan NGDP di 6,6%, yield wajar secara historis ada di kisaran 5,3–5,9%, bukan 4,8%. Artinya, argumen bahwa yield sekarang terlalu tinggi sulit dipertahankan secara fundamental. Kalau NGDP akhirnya settle di 6% karena kombinasi AI-driven productivity dan sticky inflation, maka yield 5,3% adalah angka yang reasonable — bahkan sebelum memperhitungkan fiscal risk.
Di level DM secara agregat, funding costs kini sudah di atas Nominal GDP untuk pertama kalinya secara konsisten sejak era pre-GFC. Ini berbeda jauh dari dekade 2010-an di mana financial repression membuat yield jauh di bawah pertumbuhan nominal, yang secara efektif mensubsidi debt burden negara-negara berhutang tinggi. Era itu tampaknya sudah berakhir.
Apakah Fed akan hike lagi?
Pertanyaan ini bukan lagi hipotetikal. Core PCE masih jauh di atas target 2% Fed, dan berbagai ukuran trend inflation menunjukkan angka yang sticky di sekitar 3%. ISM Services Prices Paid — yang secara historis berkorelasi ketat dengan CPI dengan lag 3 bulan — kini berada di level 4-year high, konsisten dengan CPI di atas 5% pada gelombang inflasi sebelumnya.
Yang memperparah situasi: the Fed funds rate sudah bergerak signifikan di bawah berbagai policy rules setelah serangkaian "insurance cuts" di 2024–2025. Financial conditions juga berada di level paling accommodative sejak 1990. Sementara itu, nonfarm payrolls yang sempat melambat di 2025 — alasan utama insurance cuts tersebut — kini menunjukkan tren naik lagi di 2026. Spread antara 2-year Treasury yield dan Fed funds rate juga secara historis menjadi leading indicator untuk rate hikes.
Semua ini mengarah pada satu kesimpulan yang tidak nyaman: those insurance cuts mungkin harus di-reverse. Seberapa besar? Secara historis, CPI di level 3,4% berkorelasi dengan lebih dari 100bps tightening di tahun pertama hiking cycle. Itu jauh di atas ekspektasi konsensus saat ini.
Global Earnings: Rekor yang Sering Diabaikan
Di tengah semua noise soal yield dan Fed, ada satu fakta yang kurang dapat perhatian: global earnings mungkin sedang berada di titik terkuat sepanjang sejarah. Q2 2026 mencatatkan YoY earnings expansion terkuat di luar periode pandemi untuk MSCI ACWI, didorong oleh kombinasi cyclical tailwinds dan commodity strength yang berjalan bersamaan.
- Proporsi perusahaan yang beat earnings expectations mencapai rekor di AS dan Jepang pada Q2
- Earnings growth Q2 2026 untuk EM mencapai 65% YoY, Jepang 59%, dan S&P 500 sekitar 34%
- S&P 500 EPS secara agregat kini breaking out dari channel 90-tahun — ke atas
Pertanyaan besarnya adalah apakah ini sustainable plateau baru yang didorong AI, atau elevated earnings yang bersifat sementara. AI capex boom nyata adanya: top 5 capex spenders di S&P 500 membelanjakan lebih dari dua kali lipat gabungan 495 perusahaan lainnya. Hyperscalers (AMZN, GOOG, MSFT, META, ORCL) kini mengkonversi buyback menjadi issuance untuk mendanai capex — dan spending mereka secara langsung mendorong earnings untuk semis, data center REITs, construction, dan electrical equipment.
Satu catatan penting soal AI: token costs sedang kolaps akibat cheaper compute dan tekanan dari open-weight models. Adopsi meningkat, tapi mayoritas perusahaan belum mengubah ukuran workforce mereka secara material sebagai dampak langsung AI. Kita masih jauh dari "AI revolution" dalam konteks labor market. Yang justru menarik: job postings yang menyebut AI meningkat tajam — AI mungkin sedang menciptakan pekerjaan baru, bukan semata menghilangkannya.
Rotasi dan Jepang
Dari sisi equity, leadership pasar global sudah bergeser. AS yang sempat di bottom quartile di 2025 kini ada di tengah-tengah pack global di 2026. Mag-7 hanya naik kurang dari 5% sejak akhir Oktober 2025, sementara small caps, Energy, Materials, dan Health Care outperform. Equal-weight S&P 500 juga mengalahkan cap-weighted index — sinyal rotasi yang genuine.
Jepang layak mendapat perhatian lebih. Yen sedang bouncing dari 40-year lows, Tokyo menjadi salah satu kota termurah di dunia relatif terhadap economic prowess-nya, dan valuasi Jepang sudah cheapened up secara dramatis sejak awal 2010-an. BoJ melakukan koordinasi intervensi dengan US Treasury pada Juli 2026 — langkah yang tidak biasa dan menghabiskan ¥15,4 triliun dari April hingga Agustus, terbesar sejak 1991. Kalau BoJ akhirnya menjadi katalis sustainable JPY rally, implikasinya terhadap global carry trades dan asset allocation bisa sangat signifikan.